Kekeringan Makin Meluas di Pati, Pemkab Bersiap Naikkan Status Jadi Tanggap Darurat

Ali Mustofa • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 11:19 WIB
SURUT: Sungai Silugonggo Mengering belum lama ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/FALAH RADAR KUDUS)
SURUT: Sungai Silugonggo Mengering belum lama ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/FALAH RADAR KUDUS)

PATI - Dampak musim kemarau di Kabupaten Pati terus meluas. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati tengah menyiapkan langkah untuk meningkatkan status penanganan bencana kekeringan dari siaga menjadi tanggap darurat pada pekan ini.

Data terbaru menunjukkan sedikitnya 49 desa di Pati telah terdampak kekeringan.

Wilayah tersebut tersebar di 10 kecamatan, yakni Jaken, Jakenan, Gabus, Winong, Pucakwangi, Kayen, Tambakromo, Sukolilo, Batangan, dan Dukuhseti.

Meluasnya wilayah terdampak membuat pemerintah daerah perlu memperkuat penanganan, terutama dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Sejumlah warga mulai mengalami kesulitan memperoleh pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengatakan, peningkatan status menjadi tanggap darurat akan dilakukan dalam waktu dekat.

Dengan status tersebut, pemerintah berharap penanganan di lapangan dapat berjalan lebih cepat sekaligus membuka ruang optimalisasi dukungan anggaran.

Salah satu sumber anggaran yang disiapkan adalah Belanja Tak Terduga (BTT).

Dana tersebut dapat digunakan untuk mendukung distribusi bantuan air bersih ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.

"Kekeringan ini dari BPBD sudah bikin surat untuk bisa ditangani oleh dana BTT. Karena kalau sudah ditangani dana BTT, BPBD bisa dropping untuk setiap harinya bisa 47 sampai 48 tangki," jelas Chandra.

Distribusi Air Bersih Ditingkatkan

Pemanfaatan dana BTT diharapkan memungkinkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati meningkatkan frekuensi pengiriman air bersih.

Dengan begitu, desa-desa yang mengalami kekurangan air dapat memperoleh bantuan secara lebih rutin.

Namun, pemerintah daerah belum menetapkan nilai anggaran BTT yang akan digunakan.

Besaran kebutuhan masih harus dihitung dengan mempertimbangkan lamanya musim kemarau serta perkembangan kondisi kekeringan di lapangan.

"Kita sesuaikan. Panjangnya kekeringan belum tahu. Sampai November atau Desember. Kita sesuaikan dengan bulan masa kekeringan," terang Chandra.

Selain mengandalkan distribusi air melalui tangki, Pemkab Pati juga mulai menyiapkan penanganan untuk jangka panjang.

Salah satu rencana yang dipertimbangkan adalah pembangunan sumur bor atau sumur dalam di sejumlah daerah yang berulang kali menghadapi persoalan kekurangan air saat musim kemarau.

Pembangunan sumber air permanen diharapkan dapat memberikan alternatif pasokan bagi masyarakat sehingga ketergantungan terhadap bantuan air bersih ketika kemarau dapat dikurangi.

Warga Mulai Khawatir

Kondisi kekeringan juga mulai dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Trisno, warga Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap debit air yang terus menurun.

Menurutnya, ketersediaan air bisa menjadi masalah serius apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.

Ia berharap pemerintah segera memperkuat langkah penanganan agar kondisi di wilayahnya tidak semakin sulit.

Warga juga mengkhawatirkan penurunan pasokan air akan berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari.

Karena itu, bantuan air bersih dan penyediaan sumber air alternatif dinilai menjadi kebutuhan yang perlu segera ditangani.

Editor : Ali Mustofa
Kekeringan Pati 49 desa terdampak bantuan air bersih bpbd pati pemkab pati