PATI – Jumlah warga yang mengalami gejala kesehatan dalam kasus dugaan keracunan makanan (kermak) program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati terus bertambah.
Hingga Jumat (11/9) , Dinas Kesehatan (Dinkes) Pati mencatat 401 orang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong 01.
Kepala Dinkes Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, mengatakan seluruh korban masih berkaitan dengan distribusi makanan dari SPPG Gembong 01.
Mereka berasal dari sejumlah satuan pendidikan dan layanan masyarakat, yakni SMPN 1 Gembong, MTsN 3 Pati, MTs Mambaul Ulum, SDN Gembong 03, MI Miftahul, serta Posyandu Anggrek.
"Data terkini Jumat, 11 September 2026 cut off per jam 07.00 WIB. Jumlah korban dugaan kermak MBG SPPG Gembong 1 sebagai berikut, bergejala 401 orang," ujar Luky saat dikonfirmasi, Jumat (11/9).
Dari total tersebut, sebanyak 48 orang masih menjalani rawat inap.
Sementara 319 orang mendapatkan perawatan jalan. Para korban ditangani di sejumlah fasilitas kesehatan.
Di antaranya RSUD RAA Soewondo Pati, RS Mitra Bangsa, Keluarga Sehat Hospital (KSH), RS Fastabiq Sehat, serta Puskesmas Gembong.
"Ranap (rawat inap) 48 orang. Rajal (rawat jalan) 319 orang," terang Luky.
Berdasarkan data sementara Dinkes Pati, korban dari SMPN 1 Gembong yang menjalani rawat inap berjumlah 16 orang.
Sementara 95 orang lainnya mendapatkan penanganan rawat jalan.
Di MTsN 3 Pati, tercatat 18 orang menjalani rawat inap dan 157 orang menjalani rawat jalan.
Kemudian, dari MTs Mambaul Ulum terdapat 11 korban yang dirawat inap dan 11 orang menjalani rawat jalan.
Sementara dari SDN Gembong 03, satu orang tercatat menjalani rawat inap dan 38 orang mendapatkan perawatan jalan.
Adapun dari MI Miftahul, satu orang menjalani rawat inap dan belum terdapat laporan korban yang menjalani rawat jalan.
Sedangkan dari Posyandu Anggrek, satu orang tercatat menjalani rawat inap dan 18 orang mendapatkan penanganan rawat jalan.
Jumlah tersebut menunjukkan adanya peningkatan signifikan dibandingkan data sehari sebelumnya.
Pada Kamis (10/9), jumlah warga sekolah dan masyarakat yang mengalami gejala tercatat sebanyak 269 orang.
Dalam kurun waktu satu hari, jumlah tersebut bertambah menjadi 401 orang.
Luky mengatakan penambahan jumlah korban masih terus dipantau oleh petugas kesehatan.
Meski demikian, hingga saat ini seluruh pasien masih dapat mendapatkan penanganan medis.
"Ada penambahan yang bergejala. Sejauh ini penanganan kesehatan masih bisa tertangani," jelasnya.
Di tengah bertambahnya jumlah warga yang mengalami gejala, kondisi sejumlah pasien rawat inap mulai membaik.
Sebagian pasien yang telah dinyatakan cukup sehat bahkan sudah diperbolehkan pulang untuk melanjutkan pemulihan melalui rawat jalan.
"Ranap juga sudah ada yang bisa pulang," pungkas Luky.
Pihaknya masih melakukan pemantauan dan pembaruan data secara berkala seiring adanya laporan tambahan dari fasilitas kesehatan.
Sementara itu, penyebab pasti munculnya gejala pada ratusan orang tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan dan pengujian laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kasus tersebut. (adr)
Editor : Ali Mustofa