Sungai Silugonggo Bakal Dialiri Air dari Waduk Kedungombo, 2.655 Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

Ali Mustofa • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 11:44 WIB
Kawasan Bendung Karet Sungai Silugonggo yang mengering kehabisan air akibat kemarau panjang.
Kawasan Bendung Karet Sungai Silugonggo yang mengering kehabisan air akibat kemarau panjang.

PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati terus mencari solusi untuk mengatasi dampak kemarau panjang yang membuat debit air di Sungai Silugonggo menyusut hingga mengganggu kebutuhan irigasi pertanian. 

Salah satu langkah yang disiapkan adalah mengalirkan pasokan air dari Waduk Kedungombo ke Sungai Silugonggo.

Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) terkait rencana tersebut.

Hasilnya, penggelontoran air dari Waduk Kedungombo dijadwalkan mulai dilakukan pada 15 September 2026.

“Kami sudah bernegosiasi dengan BBWS dan alhamdulillah tanggal 15 September nanti dari Waduk Kedungombo akan dibuka untuk dialirkan ke Sungai Silugonggo. Jadi masalah tanaman pangan juga kami terus berupaya supaya dampak kekeringan ini tidak berimbas ke persawahan,” kata Risma.

Pasokan air dari Waduk Kedungombo diharapkan mampu mengalir hingga kawasan Bendung Karet, salah satu wilayah yang turut mengalami dampak kekeringan cukup parah.

Risma menyampaikan, pemerintah provinsi juga telah menyatakan kesiapannya untuk turut membantu penanganan persoalan kekeringan yang terjadi di kawasan tersebut.

Kondisi Sungai Silugonggo yang mengering menjadi persoalan serius bagi petani yang lahan pertaniannya berada di sekitar aliran sungai.

Berkurangnya pasokan air membuat petani kesulitan mendapatkan sumber pengairan untuk sawah mereka.

Ancaman kekeringan tidak hanya terjadi di sepanjang Sungai Silugonggo.

Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Kabupaten Pati mencatat sedikitnya 2.655 hektare lahan sawah saat ini berada dalam kondisi terancam gagal panen akibat kemarau panjang.

Kepala Dispertan Kabupaten Pati Ratri Wijayanto menjelaskan, lahan pertanian yang terdampak tersebar di sejumlah kecamatan.

Rinciannya, Kecamatan Gabus mencapai 764 hektare, Kecamatan Pati 706 hektare, Margorejo 469 hektare, Jakenan 442 hektare, dan Kayen 210 hektare.

“Ada sekitar 2.655 hektare lahan pertanian padi dari 3.057 lahan yang saat ini terancam gagal panen akibat kekeringan,” ungkap Ratri.

Kemarau panjang yang berlangsung membuat sejumlah sungai maupun sumber air mengalami penyusutan bahkan mengering.

Situasi tersebut berdampak langsung terhadap ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan irigasi lahan pertanian.

Karena itu, Pemkab Pati terus mengupayakan berbagai langkah untuk menambah pasokan air, salah satunya dengan menggelontorkan air dari Waduk Kedungombo menuju Sungai Silugonggo.

Pasokan tambahan tersebut diharapkan dapat membantu mengairi lahan pertanian yang terdampak sekaligus mengurangi risiko gagal panen.

Pemerintah juga berharap langkah tersebut mampu mencegah dampak kekeringan meluas ke wilayah pertanian lainnya. (aua)

Editor : Ali Mustofa
kemarau panjang sungai silugonggo lahan pertanian dispertan pati waduk kedungombo