PATI – Persediaan air di Waduk Gembong, Kabupaten Pati, terus berada dalam kondisi mengkhawatirkan.
Volume air waduk kini menyusut hingga di bawah 2 juta meter kubik. Di sisi lain, kebutuhan pengairan untuk lahan pertanian masih cukup tinggi.
Dari volume yang tersisa tersebut, air yang benar-benar berada di tubuh waduk diperkirakan hanya sekitar 500 ribu meter kubik.
Jika tidak ada tambahan pasokan dari hujan atau sumber air lainnya, ketersediaan air untuk kepentingan irigasi diperkirakan hanya mampu mencukupi kebutuhan sekitar dua pekan.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan air Waduk Gembong harus dilakukan secara lebih ketat. Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Pati mulai menerapkan sistem penggiliran agar air yang tersisa bisa dimanfaatkan secara optimal.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUTR Pati, Widyotomo Kusdiyanto, mengatakan pembagian air dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan.
“Untuk kebutuhan irigasi, kemungkinan hanya mampu bertahan sekitar dua pekan jika tidak ada tambahan air dari hujan maupun sumber lainnya,” ujar Widyotomo.
Waduk Gembong selama ini menjadi salah satu sumber utama pengairan lahan pertanian yang tersebar di lima kecamatan.
Wilayah yang mendapatkan suplai air dari waduk tersebut meliputi Kecamatan Pati, Margorejo, Tlogowungu, Gembong, dan Wedarijaksa.
Dengan keterbatasan debit yang tersedia, distribusi air tidak bisa dilakukan secara bebas seperti kondisi normal.
Penggiliran diterapkan agar setiap wilayah tetap mendapatkan pasokan sesuai kebutuhan dan kemampuan sumber air.
Widyotomo menjelaskan, besaran jatah air masing-masing wilayah juga tidak dapat disamakan.
Pembagiannya disesuaikan dengan debit yang tersedia di bendung, luas lahan pertanian yang harus diairi, serta hasil kesepakatan bersama petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan air dari sektor pertanian masih cukup besar. Saat ini debit air yang dikeluarkan dari Waduk Gembong berada di kisaran 1.200 liter per detik.
Kecamatan Margorejo menjadi salah satu daerah yang memiliki kebutuhan air irigasi cukup tinggi.
Besarnya permintaan tersebut membuat pengaturan sisa air waduk menjadi semakin penting.
Apalagi, kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang belum memberikan tambahan pasokan air yang berarti.
Jika situasi tersebut terus berlangsung, persediaan air waduk akan semakin tertekan.
Persoalan tidak hanya berasal dari air yang terus digunakan untuk mengairi sawah. Volume air di Waduk Gembong juga berkurang secara alami akibat proses penguapan.
Menurut Widyotomo, tingkat penguapan di waduk dapat mencapai sekitar satu sentimeter setiap hari. Kondisi itu secara perlahan ikut menggerus cadangan air yang masih tersedia.
“Kemungkinan bisa (kering). Soalnya untuk tubuh waduk sendiri kan tinggal 500.000 meter kubik. Karena untuk penguapan sendiri per hari 1 cm. Kemungkinan ya akan berkurang terus,” katanya.
Dengan cadangan air yang semakin terbatas, datangnya hujan menjadi salah satu harapan untuk kembali meningkatkan volume Waduk Gembong.
Tambahan air dari hujan akan sangat dibutuhkan untuk menjaga ketersediaan air irigasi bagi lahan pertanian di sejumlah kecamatan yang selama ini bergantung pada waduk tersebut.
Sebaliknya, apabila kemarau masih berlanjut tanpa adanya tambahan pasokan, debit air diperkirakan akan terus menurun.
Kondisi itu berpotensi membuat penggiliran air harus dilakukan semakin ketat.
Pemerintah pun perlu terus melakukan pengawasan terhadap kondisi waduk dan distribusi air agar sisa persediaan yang ada dapat dimanfaatkan seefisien mungkin hingga pasokan baru tersedia.
Bagi petani, keberadaan air menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan tanaman di tengah ancaman kemarau.
Karena itu, pengaturan distribusi air menjadi langkah yang harus dilakukan agar dampak kekurangan air tidak meluas ke semakin banyak lahan pertanian di Kabupaten Pati. (adr)
Editor : Ali Mustofa