Sungai Juwana Mengering, 1.300 Hektare Tambak Terancam dan Kerugian Capai Rp50 Miliar

Ali Mustofa • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 15:44 WIB
BERKAH: Petani tambak nila salin di Wilayah Tayu sedang memanen ikan belum lama ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)
BERKAH: Petani tambak nila salin di Wilayah Tayu sedang memanen ikan belum lama ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

PATI - Kemarau panjang mulai membawa dampak serius bagi sektor perikanan di Kabupaten Pati.

Sungai Juwana yang menjadi salah satu sumber pengairan tambak kini mengalami kekeringan hingga membuat sekitar 1.300 hektare lahan tambak kekurangan pasokan air.

Lahan tambak yang terdampak tersebar di 33 desa yang berada di Kecamatan Juwana dan Batangan.

Kondisi tersebut membuat aktivitas budidaya ikan di kawasan tersebut nyaris berhenti, sementara potensi kerugian petambak diperkirakan mencapai hampir Rp50 miliar dalam satu periode panen.

Panjang musim kemarau membuat debit Sungai Juwana terus menyusut.

Kondisi tersebut kemudian berdampak langsung terhadap tambak-tambak yang membutuhkan pasokan air untuk menjaga keberlangsungan budidaya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati Hadi Santosa mengatakan, dampak kekeringan kali ini cukup berat bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor perikanan.

Tanpa ketersediaan air yang memadai, kegiatan budidaya ikan di tambak praktis tidak dapat berjalan normal.

“Kekeringan ini membuat 1.300 hektare tambak kekurangan air. Padahal, produktivitas tambak bandeng maupun nila minimal 1 ton per hektare, dengan nilai ekonomi Rp25 juta sampai Rp30 juta per hektare. Kalau dikalkulasi, potensi kerugian petambak hampir Rp50 miliar dalam satu periode panen,” ungkap Hadi.

Besarnya luasan tambak yang terdampak membuat ancaman kerugian ekonomi tidak bisa dianggap ringan.

Dengan produktivitas minimal satu ton ikan per hektare, ribuan hektare lahan tersebut sebenarnya memiliki potensi hasil yang cukup besar.

Komoditas yang dibudidayakan di kawasan tersebut antara lain bandeng dan nila. Nilai ekonominya diperkirakan berada di kisaran Rp25 juta hingga Rp30 juta untuk setiap hektare.

Jika kondisi kekeringan terus berlangsung dan aktivitas tambak tidak dapat dilakukan, potensi kehilangan pendapatan petambak pun semakin besar.

Perhitungan sementara DKP Pati menunjukkan kerugian dapat mendekati Rp50 miliar untuk satu periode panen.

Melihat kondisi tersebut, DKP Kabupaten Pati bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan pemantauan langsung di wilayah terdampak.

Pendataan dilakukan untuk mengetahui kondisi tambak sekaligus memetakan dampak kekeringan terhadap pembudi daya ikan dan nelayan.

Pemerintah pusat disebut memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Berbagai langkah mitigasi tengah dirumuskan agar dampak kekeringan terhadap sektor perikanan dapat ditekan.

Selain pemantauan, pemerintah juga berupaya menyiapkan langkah pemulihan bagi petambak yang terdampak.

Hadi mengatakan, bantuan berupa bibit ikan hingga kini belum disalurkan. Namun, pihaknya masih berupaya agar dukungan tersebut dapat diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Bantuan bibit ikan memang belum turun, tapi sedang kami usahakan. Penanganan kekeringan ini kami perlakukan sama seriusnya dengan penanganan bencana banjir,” tegasnya.

Menurutnya, kondisi kekeringan yang melanda kawasan tambak membutuhkan penanganan serius karena menyangkut keberlangsungan usaha dan sumber penghasilan masyarakat.

Pemerintah juga mempertimbangkan langkah penebaran kembali benih ikan atau restocking setelah Sungai Juwana kembali memiliki cukup air.

Namun, rencana tersebut belum dapat langsung dilakukan. Kondisi Sungai Juwana yang memiliki aliran panjang dan wilayah cukup luas membutuhkan kajian terlebih dahulu agar intervensi terhadap ekosistem tidak menimbulkan persoalan baru.

Hadi mengatakan, restocking di waduk maupun embung relatif lebih mudah dilakukan karena wilayahnya lebih terbatas. Sementara untuk sungai dengan karakteristik seperti Sungai Juwana, diperlukan perhitungan yang lebih matang.

“Kalau tebar benih di waduk atau embung gampang, tapi untuk sungai sebesar ini harus dievaluasi dulu,” ujarnya.

Di tengah dampak buruk kekeringan terhadap tambak, kondisi Sungai Juwana yang surut ternyata juga membawa perubahan pada ekosistem perairan.

Hadi menjelaskan, menyusutnya air di sekitar Bendung Karet Bungasrejo menyebabkan banyak ikan mengalami kematian.

Salah satu jenis yang terdampak cukup besar adalah ikan sapu-sapu yang selama ini dikenal sebagai hama di perairan tersebut.

Populasi ikan sapu-sapu disebut mengalami peningkatan tajam sejak awal 2026. Keberadaannya kemudian menjadi persoalan bagi nelayan karena ikan tersebut memiliki sifat invasif dan dapat mengganggu keberadaan ikan lokal.

Ikan sapu-sapu dikenal memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi, termasuk ketika kondisi lingkungan perairan berubah menjadi ekstrem. Hal tersebut membuat populasinya selama ini cukup sulit dikendalikan.

Namun, kematian ikan secara alami akibat surutnya Sungai Juwana diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap keseimbangan ekosistem.

“Harapan kami, dengan matinya hama sapu-sapu secara alami, tahun depan populasinya tidak lagi mendominasi perairan Juwana,” pungkas Hadi.

Di satu sisi, kekeringan Sungai Juwana menjadi ancaman serius bagi 1.300 hektare tambak dan berpotensi menimbulkan kerugian hampir Rp50 miliar bagi petambak.

Namun di sisi lain, surutnya perairan juga membuka peluang berkurangnya populasi ikan sapu-sapu yang selama ini menjadi salah satu hama bagi ekosistem perairan Juwana. (adr/ali)

Editor : Ali Mustofa
ikan sapu-sapu petambak sektor perikanan kekeringan sungai juwana