PATI – Kemarau panjang mulai memberikan dampak nyata terhadap kondisi Waduk Gembong, Kabupaten Pati.
Waduk yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pengairan lahan pertanian di lima kecamatan tersebut mengalami penyusutan volume air cukup signifikan.
Saat ini, persediaan air di Waduk Gembong diperkirakan hanya tersisa sekitar 2,4 juta meter kubik.
Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kapasitas penuh waduk yang mampu menampung hingga 9,5 juta meter kubik.
Penyusutan debit air bahkan membuat bagian dasar waduk di wilayah Desa Gembong dan Desa Pohgading, Kecamatan Gembong, mulai terlihat.
Genangan air memang masih terdapat di sejumlah lokasi, tetapi luas permukaannya sudah jauh mengecil jika dibandingkan dengan kondisi saat waduk terisi normal.
Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUTR Kabupaten Pati, Widyotomo Kusdiyanto, membenarkan kondisi tersebut.
Menurut dia, jumlah air yang tersisa saat ini bahkan berpotensi kembali mengalami penurunan.
“Iya betul. Bahkan mungkin sudah menyusut lagi,” ujar Widyotomo.
Ia menjelaskan, kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang menjadi salah satu faktor utama menyusutnya volume air waduk.
Fenomena El Nino turut disebut sebagai penyebab minimnya curah hujan sehingga pasokan air yang masuk ke waduk tidak mencukupi.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan air untuk pertanian tetap tinggi.
Waduk Gembong selama ini digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan irigasi di lima kecamatan, yakni Gembong, Tlogowungu, Pati, Wedarijaksa, dan Margorejo.
Pengeluaran air untuk kebutuhan irigasi saat ini berada di kisaran 1.000 liter per detik.
Besarnya kebutuhan tersebut membuat volume air yang tersisa terus berkurang dari waktu ke waktu.
Namun, tidak seluruh sisa air di dalam waduk dapat digunakan untuk mengairi sawah.
Dari sekitar 2,4 juta meter kubik air yang masih tersedia, terdapat kurang lebih 500 ribu meter kubik yang harus dipertahankan sebagai cadangan pengaman untuk menjaga kondisi tubuh waduk.
Artinya, jumlah air yang benar-benar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan irigasi jauh lebih sedikit dari total volume yang tersisa.
“Sudah tidak optimal, karena debit air semakin sedikit,” kata Widyotomo.
Dengan tingkat pemanfaatan air seperti saat ini, persediaan yang masih bisa digunakan untuk mengairi lahan pertanian diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar dua pekan.
Kondisi tersebut tentu menjadi perhatian karena keberlangsungan pengairan sawah di lima kecamatan sangat bergantung pada ketersediaan air Waduk Gembong.
Jika hujan belum juga turun dan tidak ada tambahan pasokan dari sumber air lainnya, distribusi air untuk lahan pertanian berpotensi semakin terbatas.
Para petani kini harus menghadapi ketidakpastian akibat kondisi cuaca. Harapan terhadap turunnya hujan menjadi semakin besar, sementara pemerintah perlu memperhitungkan penggunaan sisa air secara cermat agar cadangan yang ada tidak terkuras terlalu cepat.
Menyusutnya Waduk Gembong menjadi gambaran bagaimana kemarau panjang dapat langsung memengaruhi sektor pertanian.
Dengan sisa air yang semakin terbatas, kondisi cuaca dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi salah satu penentu keberlanjutan pengairan sawah di wilayah Pati. (adr)
Editor : Ali Mustofa