Bendung Karet Sungai Juana Pati Mendadak Kering, Ikan Bergelimpangan dan Warga Berdatangan

Ali Mustofa • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 11:53 WIB
DIPEGANG: Warga setempat menunjukkan ikan terdampar di dasar Sungai Silugonggo kemarin. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)
DIPEGANG: Warga setempat menunjukkan ikan terdampar di dasar Sungai Silugonggo kemarin. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

PATI – Pemandangan tidak biasa terlihat di kawasan Bendung Karet Sungai Juana atau Sungai Silugonggo, Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan.

Sungai yang selama ini menjadi salah satu sumber pengairan bagi ribuan hektare lahan pertanian tersebut mendadak surut hingga nyaris tidak menyisakan air.

Kondisi dasar sungai yang biasanya tergenang kini tampak kering dan retak. Sejumlah ikan, terutama ikan sapu-sapu, ditemukan terdampar di dasar sungai.

Sebagian ikan bahkan sudah dalam kondisi mati akibat tidak lagi mendapatkan cukup air.

Fenomena tersebut kemudian menarik perhatian masyarakat. Warga dari sekitar lokasi berdatangan untuk menyaksikan langsung kondisi Bendung Karet Sungai Juana yang mengering.

Informasi mengenai kondisi sungai itu juga menyebar luas melalui media sosial.

Warga Sebut Belum Pernah Melihat Sungai Sekering Ini

Anton, warga asal Juwana, mengaku datang ke lokasi setelah melihat video mengenai kondisi Bendung Karet Sungai Juana yang beredar di media sosial.

Menurutnya, kondisi seperti sekarang merupakan sesuatu yang tidak biasa. Ia bahkan mengaku belum pernah melihat bendung tersebut benar-benar kering seperti yang terjadi saat ini.

“Kondisi Bendung Karet ini seingat saya tidak pernah asat seperti ini. Ini kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ungkap Anton.

Ia menduga surutnya air tidak hanya dipengaruhi kondisi kemarau yang cukup ekstrem. Penggunaan pompa oleh petani di sepanjang aliran Sungai Juana juga dinilai ikut mempercepat berkurangnya debit air.

Pompa tersebut digunakan petani untuk memenuhi kebutuhan air sawah di tengah kondisi kemarau dan terbatasnya pasokan air.

Pendapat serupa disampaikan Lukito, warga Desa Bungasrejo. Menurutnya, kebutuhan air untuk pertanian yang cukup tinggi turut menyebabkan debit Sungai Juana semakin cepat menyusut.

Di sisi lain, pasokan air dari kawasan hulu, termasuk Waduk Kedung Ombo di Kabupaten Grobogan, juga disebut mengalami penurunan debit secara signifikan.

“Akibatnya ya seperti ini, jutaan ikan sapu-sapu terdampar dan mati. Kami sangat berharap ada bantuan pasokan air dari waduk lain ke Sungai Juana. Jika kemarau ini semakin panjang, dampaknya akan sangat buruk bagi petani di sekitar bendung,” harap Lukito.

Mengancam Pasokan Air untuk Pertanian

Mengeringnya Bendung Karet Sungai Juana bukan sekadar persoalan pemandangan yang tidak biasa.

Kondisi tersebut berpotensi mengganggu fungsi bendung dalam menjaga ketersediaan air bagi kawasan pertanian.

Bendung tersebut memiliki peran penting sebagai pembatas antara air laut dan air tawar sekaligus membantu mengatur distribusi air untuk kebutuhan irigasi.

Ketika cadangan air tawar menipis, kebutuhan pengairan lahan pertanian di sekitar bendung ikut terancam. Jika kondisi kemarau berlangsung lebih lama, risiko terhadap produktivitas pertanian hingga kemungkinan gagal panen dapat semakin besar.

Diduga Ada Kerusakan pada Bendung

Pengamat lingkungan Hendy Hendro Hadisujono menilai persoalan yang terjadi di Sungai Silugonggo tidak semata-mata disebabkan faktor alam.

Menurutnya, ada faktor infrastruktur yang turut berpengaruh terhadap kondisi tersebut.

Ia menyebut adanya kebocoran atau kerusakan pada Bendung Karet di Desa Bungasrejo yang terjadi pada Juli 2026.

“Mengeringnya sungai ini dipicu oleh adanya kebocoran atau kerusakan pada bendung karet di Desa Bungasrejo yang terjadi pada bulan Juli 2026 kemarin,” terang Hendy.

Ia menjelaskan, bendung karet memang dirancang dengan sistem yang memungkinkan konstruksinya mengembang dan mengempis.

Infrastruktur tersebut memiliki fungsi penting, baik dalam mengendalikan banjir saat musim hujan maupun menahan air tawar ketika memasuki musim kemarau.

Keberadaan bendung juga diperlukan untuk menahan air tawar agar tidak langsung mengalir ke laut, mengurangi risiko masuknya air laut ke wilayah hulu, sekaligus menjaga debit air untuk kebutuhan irigasi.

“Namun karena rusak, bendung karet ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya sehingga air tawar bablas begitu saja,” tegasnya.

Perlu Perbaikan dan Penanganan Jangka Panjang

Hendy menilai persoalan tersebut membutuhkan langkah cepat sekaligus strategi jangka panjang.

Pemerintah daerah melalui dinas terkait bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) perlu segera berkoordinasi untuk menangani kebocoran pada bendung karet.

Perbaikan diperlukan agar fungsi bendung dapat kembali berjalan secara optimal dan cadangan air tidak terus terbuang.

Selain perbaikan infrastruktur, rekayasa aliran air dari bendungan di kawasan hulu juga dapat dipertimbangkan jika kondisi memungkinkan.

Namun, langkah tersebut harus dihitung secara matang karena kebutuhan air petani di wilayah hulu juga harus tetap diperhatikan.

Alternatif lain yang dapat dilakukan adalah membuat sumur bor dalam atau memanfaatkan pompa untuk mengambil sumber air dari titik-titik terdalam di dasar sungai yang masih menyimpan cadangan air.

“Selain itu melakukan pemeliharaan bendung secara kontinu. Bukan hanya saat terjadi kerusakan,” paparnya.

Petani Perlu Dilibatkan dalam Pengawasan

Menurut Hendy, pengelolaan bendung juga perlu melibatkan masyarakat yang selama ini bergantung pada keberadaan sumber air tersebut.

Ia mengusulkan pembentukan komunitas petani pengguna air Bendung Karet Silugonggo. Kelompok tersebut nantinya dapat ikut berperan dalam merawat sekaligus memantau kondisi bendung secara berkala.

Selain itu, normalisasi sungai juga dinilai perlu dilakukan. Pengerukan sedimentasi dan lumpur dapat membantu meningkatkan kapasitas tampung sungai sekaligus memperbaiki aliran air.

Pemerintah juga perlu menyusun standar operasional prosedur (SOP) yang jelas dan mudah dipahami mengenai pengoperasian Bendung Karet Sungai Juana.

“Meningkatkan koordinasi antara BBWS, BPSDA Seluna, DPUTR, Dinas Pertanian, dan kelompok tani. Kemudian menghijaukan kembali kawasan daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu yang saat ini gundul dan kritis,” pungkasnya. (adr)

Editor : Ali Mustofa
sungai juana ikan sapu-sapu lahan pertanian Bendung Karet musim kemarau