PATI – Kekeringan yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir mulai menimbulkan dampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Pati.
Ratusan hektare lahan persawahan di Desa Sugiharjo kini menghadapi ancaman gagal panen karena pasokan air untuk tanaman semakin terbatas.
Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan menurunnya hasil pertanian.
Aktivitas ekonomi warga yang selama ini bergantung pada ketersediaan air sungai juga mulai ikut terdampak.
Kondisi itu terjadi ketika debit Sungai Silugonggo terus menyusut dan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pengairan seperti biasanya.
Plt Sekretaris Desa Sugiharjo sekaligus perwakilan petani, Kaswanto, mengatakan kondisi tersebut cukup menyulitkan para petani yang mengandalkan sistem pompanisasi dari Sungai Silugonggo.
Di Dukuh Gilis, misalnya, terdapat sekitar 62 hektare lahan sawah yang membutuhkan pasokan air dari pompa sungai.
Sementara di Dusun Garas, luas lahan yang mengandalkan sumber air serupa mencapai sekitar 65 hektare.
"Untuk Dukuh Gilis sendiri ada sekitar 62 hektare sawah yang dari pompanisasi, dan untuk Dusun Garas ada sekitar 65 hektare," ujar Kaswanto.
Tanaman padi yang saat ini berada di lahan pertanian rata-rata telah berumur 35 sampai 45 hari setelah tanam.
Mayoritas petani menggunakan varietas dengan masa tanam hingga panen sekitar 70 hari.
Dengan kondisi tersebut, tanaman masih memerlukan pasokan air secara teratur setidaknya selama beberapa pekan ke depan.
Air menjadi kebutuhan penting agar pertumbuhan tanaman tetap berjalan hingga memasuki masa panen.
Kaswanto menjelaskan, kondisi tanaman padi memang belum seluruhnya mengalami puso.
Namun, risiko tersebut semakin besar apabila debit Sungai Silugonggo terus turun tanpa adanya tambahan sumber air.
Permasalahan semakin terasa karena permukaan sungai sudah terlalu rendah. Pompa yang biasanya digunakan petani pun mulai kesulitan menyedot air untuk dialirkan ke lahan persawahan.
Jika kondisi tersebut tidak segera berubah, petani diperkirakan akan menghadapi ancaman gagal panen dalam waktu dekat.
Terlebih, tanaman padi masih membutuhkan air hingga beberapa minggu sebelum mencapai usia panen.
Kondisi kekeringan yang melanda lahan pertanian tersebut dinilai membutuhkan penanganan bersama.
Pengamat lingkungan sungai Ari Subekti mengatakan perlu dilakukan kajian menyeluruh terhadap kondisi debit Sungai Silugonggo serta kebutuhan air untuk lahan pertanian di sekitarnya.
Menurut Ari, pemerintah bersama pihak terkait perlu melibatkan masyarakat, terutama para petani, dalam pembahasan mengenai pengelolaan sumber daya air.
Langkah tersebut penting agar pemanfaatan air dapat dilakukan berdasarkan kondisi dan ketersediaan yang sebenarnya.
Selama ini, petani disebut belum memiliki informasi yang cukup mengenai volume air sungai yang tersedia.
Karena itu, pemetaan antara jumlah air yang ada dan kebutuhan irigasi menjadi salah satu hal yang perlu dilakukan.
Data tersebut nantinya dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan pola pemanfaatan air secara lebih terukur.
Dengan begitu, kebutuhan sektor pertanian dapat diperhitungkan tanpa mengabaikan keberlanjutan sumber air.
Selain kondisi debit sungai, Ari juga menilai pengelolaan serta pemanfaatan Bendung Karet perlu mendapatkan evaluasi.
Infrastruktur tersebut berkaitan dengan pengaturan aliran air di Sungai Silugonggo sehingga pengelolaannya dinilai perlu disesuaikan dengan kondisi terkini.
Kajian tidak hanya diperlukan untuk mengetahui jumlah air yang tersedia, tetapi juga menghitung kebutuhan pengairan lahan pertanian secara keseluruhan.
Harapannya, dinas terkait bersama masyarakat dapat segera melakukan pemetaan dan evaluasi secara menyeluruh.
Pengelolaan sumber daya air yang lebih terukur diharapkan mampu menjaga keberlangsungan pertanian sekaligus mengurangi potensi kerugian yang harus ditanggung petani akibat kekeringan. (adr)
Editor : Ali Mustofa