Harga Kopi Melambung, Petani Pati Rayakan Kemerdekaan dengan Upacara di Bukit

Ali Mustofa • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 15:32 WIB
KIBARKAN BENDERA: Warga dan petani kopi Gembong mengibarkan bendera di Buba’an Hills Desa Sitiluhur, Gembong kemarin. Kegiatan ini rutin digelar setiap tahun sekali. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)
KIBARKAN BENDERA: Warga dan petani kopi Gembong mengibarkan bendera di Buba’an Hills Desa Sitiluhur, Gembong kemarin. Kegiatan ini rutin digelar setiap tahun sekali. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

PATI – Nuansa kemerdekaan terasa berbeda di kawasan perbukitan Buba’an Hills, Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Senin (17/8) pagi.

Di tengah hamparan kebun kopi dan panorama hijau Pegunungan Muria, warga bersama para petani kopi menggelar upacara pengibaran bendera Merah Putih untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Upacara berlangsung di atas bukit dengan pemandangan pegunungan dan area perkemahan sebagai latar.

Para peserta mengikuti rangkaian upacara dengan khidmat, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta memberikan penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih.

Bagi warga dan petani kopi, peringatan kemerdekaan di alam terbuka tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial.

Momentum itu menjadi cara untuk menumbuhkan rasa nasionalisme sekaligus mengajak masyarakat menjaga lingkungan dan mengenalkan potensi wisata serta kopi lokal dari lereng Muria.

Harga Kopi Naik, Petani Rasakan Makna Kemerdekaan

Peringatan HUT ke-81 RI kali ini terasa semakin istimewa bagi petani kopi. Pasalnya, kondisi ekonomi mereka mulai membaik seiring meningkatnya harga kopi robusta di pasaran.

Petani kopi setempat, Nur Cholis, mengaku bersyukur dengan perkembangan harga tersebut.

Menurutnya, kenaikan harga kopi memberikan harapan baru setelah para petani selama bertahun-tahun menghadapi harga jual yang relatif rendah.

Bagi Cholis, meningkatnya harga kopi memiliki makna tersendiri dalam momentum peringatan kemerdekaan.

“Kalau Indonesia merdeka dari penjajahan, bagi kami petani kopi merdeka karena harga kopi terus melambung. Sampai hari ini harga terbaru kisaran Rp63 ribu hingga Rp65 ribu per kilogram,” ujar Cholis seusai upacara.

Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Kala itu, kopi robusta dari wilayah tersebut hanya dihargai sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.

Sejak 2023, harga kopi mulai menunjukkan tren kenaikan dan terus bergerak naik hingga mencapai lebih dari dua kali lipat.

Kopi robusta yang ditanam di lereng Gunung Muria kini juga semakin diminati pembeli dari luar daerah.

Salah satunya pengepul dari Temanggung yang turut menyerap hasil panen petani kopi Pati.

“Kami berharap harga kopi ini bisa tetap stabil, sehingga petani punya kepastian pendapatan dan bisa terus mengembangkan perkebunan,” kata Cholis.

Upacara di Bukit Sekaligus Kampanye Lingkungan

Perwakilan kegiatan, Hery Susanto, mengatakan pelaksanaan upacara di ruang terbuka bukan kali pertama dilakukan kelompoknya.

Sebelumnya, mereka juga pernah menggelar upacara di kawasan gua wisata lokal.

Menurutnya, pemilihan lokasi di kawasan perbukitan memiliki pesan tersendiri.

Selain memperingati kemerdekaan, kegiatan tersebut menjadi pengingat mengenai perjuangan para pahlawan sekaligus perjuangan masyarakat saat ini dalam menjaga lingkungan dan mengembangkan potensi daerah.

“Kalau upacara bendera di lapangan itu sudah biasa. Bayangkan dulu pahlawan berjuang bagaimana. Ini kami berjuang menyambut kemerdekaan, salah satunya di pegunungan seperti ini,” ungkap Hery.

Tahun ini, Buba’an Hills dipilih sebagai lokasi karena dinilai mampu memadukan semangat kemerdekaan dengan kampanye pelestarian alam.

Di sisi lain, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi kopi lokal Pati kepada masyarakat yang lebih luas.

Dorong Kopi Pati Makin Dikenal

Hery menjelaskan, kegiatan bersama para petani kopi tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap produk perkebunan lokal.

Kopi dari lereng Muria dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan dan dipasarkan tidak hanya di wilayah Pati.

“Tahun ini kami bersama petani kopi upacara bersama sebagai bentuk kepedulian dengan kopi asli Pati. Sekalian kami mengampanyekan bahwa kopi dari Pati ini sangat layak dipromosikan ke luar Pati,” jelasnya.

Kolaborasi antara warga dan petani kopi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan peringatan kemerdekaan.

Lebih jauh, kegiatan itu diharapkan mampu memperkuat kebersamaan, meningkatkan kepedulian terhadap alam, sekaligus mendorong kopi lokal Pati semakin dikenal di tingkat nasional.

Di tengah harga kopi yang sedang bergairah, semangat para petani di lereng Muria pun terasa semakin kuat.

Bagi mereka, kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang menjaga alam, meningkatkan kesejahteraan, dan membawa potensi daerah agar semakin dikenal. (adr/ali)

Editor : Ali Mustofa
upacara di bukit rayakan kemerdekaan pemandangan pegunungan petani kopi pati