Sungai Mbango di Pati Darurat Sampah dan Limbah Industri, Tujuh Desa Ikut Terdampak

Ali Mustofa • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 09:06 WIB
TERCEMAR: Sungai Mbango Margoyoso ditumpuki sampah dan limbah pada akhir pekan ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)
TERCEMAR: Sungai Mbango Margoyoso ditumpuki sampah dan limbah pada akhir pekan ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

PATI — Kondisi Sungai Mbango di Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, kembali memprihatinkan.

Aliran sungai dipenuhi tumpukan sampah rumah tangga dan diduga tercemar limbah dari industri tapioka.

Persoalan tersebut tidak hanya mengganggu kondisi lingkungan, tetapi juga mulai memberikan dampak terhadap kehidupan ekonomi warga yang menggantungkan penghasilan dari pertanian dan perikanan.

Hasil penelusuran di sepanjang kurang lebih 500 meter aliran Sungai Mbango menunjukkan adanya tumpukan sampah dan material limbah yang menghambat aliran air.

Persoalan tersebut bahkan tidak berhenti di kawasan sungai, tetapi dikhawatirkan terbawa hingga ke wilayah muara dan perairan laut.

Kondisi itu sedikitnya dirasakan oleh masyarakat di tujuh desa di Kecamatan Margoyoso. Wilayah yang terdampak meliputi Desa Bulumanis Lor, Bulumanis Kidul, Cebolek, Pangkalan, Pohijo, Langgenharjo, dan Kertomulyo.

Puluhan Tahun Jadi Andalan Warga

Tokoh masyarakat Desa Bulumanis Lor, Kholid, mengatakan keberadaan Sungai Mbango selama ini memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Warga telah memanfaatkan aliran sungai tersebut selama puluhan tahun. Namun, kondisi sungai yang semakin tercemar membuat manfaatnya perlahan berubah menjadi persoalan baru bagi masyarakat.

Menurut Kholid, pencemaran yang diduga berasal dari limbah berbahaya telah berdampak terhadap sejumlah sektor ekonomi warga.

Lahan pertanian disebut mengalami gagal panen, sementara hasil tambak juga ikut menurun.

Dampaknya tidak berhenti di sektor pertanian dan tambak. Nelayan di sekitar kawasan tersebut juga disebut mengalami penurunan hasil tangkapan ikan.

Kondisi lingkungan yang semakin buruk turut menimbulkan kekhawatiran lain.

Penurunan kualitas air dan udara di sekitar sungai dikhawatirkan dapat memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.

Pembersihan Saja Tidak Cukup

Persoalan Sungai Mbango mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pati. Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menilai penanganan tidak bisa hanya dilakukan dengan mengangkut sampah atau membersihkan aliran sungai.

Menurutnya, langkah pembersihan tanpa menyentuh sumber pencemaran hanya akan menjadi solusi sementara.

Tumpukan sampah dan limbah sangat mungkin kembali muncul dalam waktu singkat apabila penyebab utama pencemaran tidak segera ditangani.

"Walaupun ditangani dan dibersihkan berulang kali, dalam satu hingga dua bulan kondisinya akan kembali seperti ini jika sumber masalahnya tidak diselesaikan," ujar Chandra.

Karena itu, pemerintah daerah kini mulai mengarahkan penanganan pada sumber limbah, termasuk aktivitas industri yang diduga berkontribusi terhadap pencemaran.

Pengusaha Tapioka Akan Dikumpulkan

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pemkab Pati melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berencana mengumpulkan para pelaku usaha industri tapioka.

Pertemuan tersebut akan digunakan untuk mendorong para pengusaha meningkatkan kepatuhan dalam mengelola limbah sebelum dibuang ke lingkungan.

Salah satu perhatian utama adalah pengoperasian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pemerintah meminta agar fasilitas pengolahan limbah tersebut digunakan secara optimal dan sesuai ketentuan.

Dengan pengolahan yang benar, limbah industri diharapkan tidak langsung mencemari lingkungan dan menambah beban Sungai Mbango.

Sampah Rumah Tangga Juga Jadi Persoalan

Di sisi lain, pemerintah tidak hanya menyoroti aktivitas industri.

Kebiasaan sebagian masyarakat membuang sampah rumah tangga ke sungai juga menjadi salah satu persoalan yang harus segera dihentikan.

Tumpukan sampah yang terlihat di sepanjang aliran sungai menunjukkan bahwa persoalan pencemaran tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja.

Chandra meminta masyarakat ikut menjaga kebersihan sungai dengan tidak lagi menjadikan aliran air sebagai tempat pembuangan sampah.

"Kepada masyarakat, kami juga mengimbau dengan sangat, agar tidak lagi membuang sampah ke aliran sungai," tegasnya.

Pemulihan Membutuhkan Kerja Bersama

Ke depan, Pemkab Pati bersama organisasi perangkat daerah terkait akan melakukan pemantauan dan penanganan secara berkelanjutan.

Pemerintah menegaskan bahwa penyelesaian persoalan Sungai Mbango membutuhkan langkah yang menyentuh akar masalah, bukan sekadar penanganan sesaat ketika kondisi sungai sudah terlanjur parah.

Pemulihan lingkungan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah memiliki kewajiban melakukan pengawasan dan penindakan sesuai aturan, pelaku industri harus bertanggung jawab terhadap pengelolaan limbahnya, sementara masyarakat juga perlu mengubah kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Sungai Mbango pada akhirnya bukan hanya persoalan air yang tercemar.

Di balik alirannya terdapat kehidupan warga, lahan pertanian, tambak, hingga aktivitas nelayan yang bergantung pada kondisi lingkungan yang sehat.

Jika pencemaran terus dibiarkan, dampaknya bukan hanya terlihat dari warna atau bau air, tetapi dapat merembet menjadi persoalan ekonomi dan kesehatan masyarakat.

Karena itu, penyelamatan Sungai Mbango membutuhkan tindakan nyata dan konsisten.

Bukan sekadar membersihkan sungai ketika sampah sudah menumpuk, tetapi memastikan sumber pencemar benar-benar dihentikan. (adr)

Editor : Ali Mustofa
pelaku industri lingkungan perangkat daerah pemkab pati darurat sampah