Produksi Padi Pati Tembus 395.788 Ton hingga Juni 2026, Surplus Beras Dipastikan Berlanjut

Ali Mustofa • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 10:51 WIB
MENUNGGU DIPANEN: Seorang petani berada di area persawahan Kecamatan Margorejo belum lama ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)
MENUNGGU DIPANEN: Seorang petani berada di area persawahan Kecamatan Margorejo belum lama ini. (ANDRE FAIDHIL FALAH/RADAR KUDUS)

PATI – Produksi padi di Kabupaten Pati hingga pertengahan 2026 terus menunjukkan kinerja yang menggembirakan.

Berdasarkan data sementara hingga akhir Juni, total produksi telah mencapai 395.788 ton gabah kering giling (GKG).

Capaian tersebut semakin memperkuat posisi Kabupaten Pati sebagai salah satu sentra produksi beras di Jawa Tengah yang setiap tahun mampu mencatat surplus.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHBun) Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Sugiharto, menjelaskan bahwa hingga akhir Juni 2026 luas panen padi telah mencapai 71.870 hektare.

"Data sementara sampai akhir Juni menunjukkan produksi padi mencapai 395.788 ton gabah kering giling," ujarnya.

Menurut Sugiharto, Kabupaten Pati memiliki luas baku sawah sekitar 57.231 hektare yang tersebar di 21 kecamatan.

Dari seluruh wilayah tersebut, Kecamatan Sukolilo menjadi daerah dengan areal tanam dan panen terluas.

Sepanjang 2025, luas panen di kecamatan itu mencapai sekitar 13.457 hektare.

Pada bulan ini, panen diperkirakan berlangsung di 19 kecamatan. Hanya Kecamatan Pucakwangi dan Batangan yang belum memasuki masa panen.

Sementara itu, wilayah utara seperti Tayu, Dukuhseti, dan Margoyoso diprediksi menjadi penyumbang hasil panen terbesar.

Produksi padi di Kabupaten Pati juga terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2024, produksi tercatat mencapai 527.355 ton GKG, kemudian meningkat menjadi 604.957 ton GKG pada 2025.

"Alhamdulillah, Kabupaten Pati hampir setiap tahun mengalami surplus beras. Produksi juga menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun," kata Sugiharto.

Untuk mempertahankan bahkan meningkatkan produktivitas, Dinas Pertanian terus mendorong pemanfaatan alat dan mesin pertanian modern, disertai pendampingan kepada petani melalui kelompok tani.

Pemerintah juga terus memperkuat berbagai strategi budidaya agar hasil panen tetap optimal.

Menghadapi musim kemarau, Dispertan turut memastikan ketersediaan air irigasi.

Petani didorong memanfaatkan sumber air yang masih tersedia dengan bantuan pompa air yang telah disiapkan pemerintah.

"Kami sudah mengimbau kelompok tani agar memanfaatkan sumber air yang masih ada menggunakan pompa. Dinas juga menyiapkan sejumlah program untuk mendukung penyediaan air bagi lahan pertanian," jelasnya.

Sementara itu, petani asal Pati, Suwarjo, mengaku hasil panen tahun ini lebih baik dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Meski sebagian lahan sempat terdampak serangan hama tikus, produktivitas sawah dinilai masih cukup tinggi.

Ia juga menyebut harga gabah saat ini cukup menguntungkan petani.

Harga gabah berada di kisaran Rp6.700 hingga Rp6.800 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.

Bahkan pada musim panen sebelumnya, harga gabah sempat mencapai Rp7.200 hingga Rp7.300 per kilogram, sehingga memberikan keuntungan lebih bagi para petani. (adr)

Editor : Ali Mustofa
produksi padi harga gabah kelompok tani pemkab pati