PATI – Setiap tanggal 7 Agustus, masyarakat Kabupaten Pati memperingati Hari Jadi daerahnya. Selama puluhan tahun, tanggal tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial pemerintah, tetapi juga menjadi simbol identitas sejarah masyarakat Pati. Namun, di balik penetapan hari jadi itu, terdapat proses historiografi yang panjang, melibatkan kajian naskah kuno, seminar ilmiah, hingga perdebatan di kalangan sejarawan.
Secara resmi, Hari Jadi Kabupaten Pati ditetapkan pada 7 Agustus 1323 Masehi. Penetapan tersebut disahkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 2 Tahun 1994 setelah sebelumnya dilakukan seminar sejarah pada 28 September 1993 yang menghadirkan budayawan, guru sejarah, serta akademisi dari Universitas Diponegoro. Seminar tersebut menyepakati bahwa tanggal 7 Agustus 1323 merupakan momentum perpindahan pusat pemerintahan dari Kadipaten Pesantenan di Desa Kemiri menuju Kaborongan, yang kemudian berkembang menjadi Kadipaten Pati.
Sejarah Pati Tidak Hanya Berasal dari Babad
Dalam kajian sejarah Jawa, salah satu sumber yang paling sering dijadikan rujukan adalah Serat Babad Pati atau Babad Pati. Naskah ini berisi silsilah penguasa, kisah berdirinya wilayah Pati, hingga perjalanan para adipati.
Namun, dalam metodologi sejarah modern, babad dikategorikan sebagai sumber historiografi tradisional, bukan sumber primer yang seluruh isinya dapat diterima sebagai fakta sejarah. Babad memadukan unsur sejarah, legitimasi politik, sastra, mitologi, dan nilai budaya sehingga perlu dibandingkan dengan sumber lain seperti prasasti, naskah sezaman, maupun arsip kolonial.
Karena itu, para sejarawan menempatkan Babad Pati sebagai salah satu sumber penting, tetapi tetap harus dikritisi melalui pendekatan historiografi. Kajian terbaru dari Universitas Gadjah Mada (2024) bahkan menyimpulkan bahwa penggunaan Serat Babad Pati sebagai dasar penetapan Hari Jadi masih menyisakan ruang diskusi akademik karena terdapat sejumlah perbedaan antara narasi babad dan data sejarah yang dapat diverifikasi.
Dari Carangsoka hingga Kadipaten Pati
Berdasarkan tradisi lokal, sejarah Pati diawali dari Kadipaten Carangsoka, sebuah wilayah yang berkembang di kawasan timur Pegunungan Muria menjelang berdirinya Kerajaan Majapahit pada akhir abad ke-13.
Dalam perjalanan berikutnya muncul tokoh-tokoh seperti Raden Sukmayana, Raden Kembang Jaya (Adipati Jayakusuma), hingga Adipati Tambranegara. Di sinilah muncul beberapa versi sejarah.
Versi yang berkembang dalam Babad Pati menyebut Adipati Jayakusuma sebagai tokoh sentral berdirinya Pati. Sementara hasil kajian Tim Hari Jadi Kabupaten Pati justru menempatkan Adipati Tambranegara sebagai tokoh yang memindahkan pusat pemerintahan dari Kemiri menuju Kaborongan dan mengganti nama Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati. Perbedaan inilah yang hingga kini masih menjadi bahan kajian para peneliti sejarah lokal.
Mengapa Dipilih Tanggal 7 Agustus?
Menurut hasil seminar sejarah tahun 1993, terdapat beberapa kemungkinan hari baik untuk perpindahan pusat pemerintahan pada tahun 1323. Setelah mempertimbangkan data sejarah, tradisi lokal, dan musyawarah para ahli, dipilihlah 7 Agustus 1323 sebagai momentum resmi lahirnya Kabupaten Pati.
Tanggal tersebut kemudian diabadikan dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 1994 dan menjadi dasar penyelenggaraan Hari Jadi Kabupaten Pati hingga sekarang.
Budaya Boyongan Masih Dilestarikan
Salah satu tradisi yang hingga kini terus dipertahankan adalah Kirab Boyongan. Boyongan merupakan simbol perpindahan pusat pemerintahan dari Desa Kemiri menuju Kaborongan sebagaimana diyakini dalam sejarah lokal.
Kirab tersebut bukan sekadar arak-arakan budaya, melainkan media edukasi sejarah kepada masyarakat. Prosesi membawa duplikat pusaka Kuluk Kiai Kanigoro dan Keris Kiai Rambut Pinutung, dua simbol yang juga terdapat pada lambang Kabupaten Pati, menjadi bagian penting dalam rangkaian peringatan Hari Jadi. Tradisi ini mencerminkan upaya pemerintah daerah menjaga kesinambungan antara sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Pati.
Sejarah sebagai Identitas, Bukan Sekadar Tanggal
Bagi sejarawan, penetapan hari jadi sebuah daerah bukan semata mencari tanggal tertua, melainkan memilih momentum yang paling dapat dipertanggungjawabkan secara akademik sekaligus memiliki makna historis bagi masyarakat.
Karena itu, Hari Jadi Kabupaten Pati dipandang sebagai hasil kompromi antara kajian sejarah, tradisi budaya, dan kesepakatan sosial. Meski masih terdapat perbedaan interpretasi mengenai tokoh pendiri maupun kronologi awal berdirinya Pati, penetapan 7 Agustus 1323 telah menjadi identitas kolektif masyarakat selama lebih dari tiga dekade.
Pelestarian kirab budaya, ziarah tokoh-tokoh sejarah, pameran budaya, hingga diskusi sejarah setiap peringatan Hari Jadi menjadi bukti bahwa masyarakat Pati tidak hanya merayakan usia daerahnya, tetapi juga merawat ingatan kolektif tentang asal-usul Bumi Mina Tani.
Referensi
-
Serat Babad Pati (berbagai salinan naskah dan edisi cetak).
-
Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 2 Tahun 1994 tentang Hari Jadi Kabupaten Pati.
-
Seminar Penetapan Hari Jadi Kabupaten Pati, Pendopo Kabupaten Pati, 28 September 1993.
-
Ariq Firjaun Barlaman. Serat Babad Pati dalam Penulisan Sejarah Pati, 1925–1994, Skripsi, Departemen Ilmu Sejarah, Universitas Gadjah Mada, 2024.
-
M.C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 (untuk metodologi historiografi Jawa).
-
Denys Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya (kajian sejarah dan kebudayaan Jawa).
-
Sartono Kartodirdjo. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.