Miris! Pantai Lestari Pati Dipenuhi Sampah Plastik dan Limbah Tapioka

Mahendra Aditya Restiawan • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 18:44 WIB
Penampakan Pantai Lestari Pati Berubah Kumuh Akibat Sampah Rumah Tangga dan Limbah Pabrik. (Tangkapan layar youtube tvnem)
Penampakan Pantai Lestari Pati Berubah Kumuh Akibat Sampah Rumah Tangga dan Limbah Pabrik. (Tangkapan layar youtube tvnem)

 

PATI – Kondisi Pantai Lestari di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, memprihatinkan. Kawasan pesisir yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata andalan desa kini dipenuhi tumpukan sampah rumah tangga, plastik, hingga limbah sisa industri tapioka yang menutupi sebagian garis pantai.

Pemandangan tersebut terlihat pada Jumat (24/7/2026). Hamparan pasir yang seharusnya menjadi daya tarik wisata justru dipenuhi berbagai jenis sampah yang terbawa arus sungai. Di sejumlah titik, limbah berupa kulit ari hasil pengolahan singkong dari industri tapioka juga terlihat mengendap dan menutupi bibir pantai.

Kondisi tersebut tidak hanya mengurangi keindahan kawasan wisata, tetapi juga berpotensi mengganggu ekosistem pesisir. Sampah plastik yang sulit terurai dapat mencemari lingkungan laut dan membahayakan biota perairan, sementara limbah organik dalam jumlah besar berpotensi memengaruhi kualitas air apabila tidak dikelola dengan baik.

Salah seorang pengunjung, Juriyanto, mengaku kecewa melihat kondisi Pantai Lestari yang menurutnya memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata di Kabupaten Pati. Ia menilai akses menuju lokasi sudah cukup baik, namun kondisi kebersihan pantai justru menjadi kendala utama.

Menurutnya, jika lingkungan pantai lebih terawat, kawasan tersebut berpeluang menarik lebih banyak wisatawan dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

"Pemandangannya sebenarnya bagus dan aksesnya juga mudah. Sayang sekali pantainya dipenuhi sampah dan limbah sehingga mengurangi kenyamanan pengunjung," ujarnya.

Kepala Desa Bulumanis Kidul, Susanto, menjelaskan persoalan tersebut bukan terjadi dalam waktu singkat. Selama bertahun-tahun, pemerintah desa telah berupaya menjaga kawasan pesisir melalui penanaman vegetasi pantai dan penataan lingkungan. Namun, upaya tersebut kerap terkendala kiriman sampah dari hulu sungai.

Desa Bulumanis Kidul memiliki garis pantai sepanjang kurang lebih satu kilometer. Lokasi tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata alam maupun wisata keluarga apabila kondisi lingkungannya dapat dipulihkan.

Menurut Susanto, sebagian besar sampah berasal dari aliran dua sungai yang bermuara di kawasan pantai, yakni Sungai Suatu dan Sungai Pangkalan. Saat debit air meningkat, berbagai jenis sampah rumah tangga terbawa arus hingga akhirnya mengendap di pesisir.

Selain sampah domestik, pantai juga menerima kiriman limbah organik dari aktivitas industri pengolahan tapioka di wilayah sekitar. Limbah berupa kulit ari singkong ikut terbawa aliran air menuju pantai sehingga menutupi permukaan pasir di sejumlah lokasi.

Ia berharap penanganan persoalan tersebut tidak hanya dilakukan oleh pemerintah desa, tetapi juga melibatkan pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pelaku industri, serta masyarakat. Menurutnya, persoalan sampah di kawasan pesisir merupakan masalah lintas wilayah yang membutuhkan solusi bersama.

Pemerintah desa mengaku telah beberapa kali menyampaikan kondisi tersebut kepada instansi terkait agar dilakukan langkah penanganan yang lebih komprehensif, baik melalui normalisasi sungai, peningkatan pengelolaan sampah, maupun pengawasan terhadap limbah industri.

Secara umum, persoalan sampah laut memang menjadi tantangan di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Berdasarkan berbagai kajian Kementerian Lingkungan Hidup serta Kementerian Kelautan dan Perikanan, sebagian besar sampah laut berasal dari aktivitas di daratan yang kemudian terbawa aliran sungai menuju muara dan laut. Plastik menjadi jenis sampah yang paling banyak ditemukan karena membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami.

Karena itu, penanganan pencemaran pesisir tidak cukup hanya dilakukan melalui aksi bersih pantai. Penguatan sistem pengelolaan sampah dari sumbernya, peningkatan kesadaran masyarakat, pengawasan terhadap limbah industri, serta kolaborasi lintas pemerintah menjadi langkah penting untuk mencegah pencemaran terus berulang.

Apabila kebersihan kawasan dapat dipulihkan, Pantai Lestari dinilai memiliki peluang besar berkembang menjadi destinasi wisata unggulan di Kabupaten Pati. Selain menawarkan panorama pesisir, kawasan tersebut juga berpotensi menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat melalui sektor pariwisata, kuliner, hingga usaha mikro.

Warga berharap penanganan segera dilakukan agar Pantai Lestari kembali menjadi kawasan yang bersih, nyaman, dan mampu menarik wisatawan, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan pesisir untuk generasi mendatang.

Editor : Mahendra Aditya
wisata pati Pantai Lestari Pati Sampah Pantai Pati Limbah Tapioka Pencemaran Pantai