PATI – Kabar baik menghampiri nelayan Pati. Penetapan harga BBM khusus nelayan langsung disambut positif oleh pelaku usaha perikanan tangkap di daerah ini.
Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera Eko Budiyono mengapresiasi respons cepat pemerintah pusat menyikapi gejolak harga BBM yang sempat memukul nelayan.
Kebijakan yang diteken Presiden Prabowo Subianto ini muncul setelah nelayan sempat turun ke jalan berunjuk rasa pada 4 Mei 2026 lalu.
“Kalau dipaksakan melaut dengan harga BBM yang kemarin itu, tidak akan menutup biaya operasional kita selama melaut,” kata Eko.
Ia menyebut, sekitar 350-an kapal purse seine di bawah naungan paguyubannya kini mulai berbenah, memperbaiki fisik kapal dan jaring, untuk bersiap berangkat Agustus mendatang menuju Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 718 di Laut Aru, Papua.
Dampak positif juga dirasakan pemilik kapal. Juwari, pemilik kapal asal Desa Bendar, Kecamatan Juwana, mengaku lega.
Harga BBM non-subsidi yang sebelumnya sempat menyentuh Rp 30.000 per liter sangat membebani biaya produksi, apalagi komponen operasional lain ikut naik.
“Harga sekarang yang baru ditetapkan ini membantu sekali, soalnya dulu dengan harga Rp20 ribu per liter itu sudah berat. Apalagi harga kemarin sampai 30 ribu,” ujarnya.
Dengan harga baru Rp15.000 per liter, kata Juwari, biaya produksi kini berada di taraf ideal dan bisa tertutup hasil penjualan ikan.
Kebijakan ini sekaligus menyelamatkan nasib puluhan anak buah kapal (ABK), Juwari mempekerjakan sekitar 45 orang per kapal yang terpaksa menganggur total sejak libur Lebaran lalu.
Senada, nakhoda senior KM Mekar Jaya Barokah 6 berkapasitas 170 GT, Arif mengungkapkan hampir seluruh kapal tangkap di wilayahnya sempat berhenti beroperasi sejak bulan puasa akibat mahalnya bahan bakar.
Banyak nelayan kehilangan mata pencaharian akibat kondisi tersebut.
Arif optimistis iklim usaha perikanan tangkap bakal kembali bergairah jelang keberangkatan massal Agustus nanti.
Harga BBM stabil di Rp15.000 per liter, menurutnya, sudah sepadan dengan harga jual ikan pindang, layang, dan banyar yang akan diburu di perairan Maluku hingga menjelang Maret tahun depan. (aua/ali)
Editor : Ali Mustofa