PATI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati mulai melakukan berbagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah.
Sejumlah armada truk tangki beserta tandon air telah disiapkan untuk mendukung distribusi air bersih apabila kondisi kekeringan mulai meluas.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Pati Martinus Budi Prasetya mengatakan, hingga awal Juli 2026 belum ada laporan maupun permintaan bantuan air bersih yang masuk dari pemerintah desa ataupun masyarakat.
Meski demikian, pihaknya tetap meningkatkan kesiapsiagaan mengingat pengalaman pada musim kemarau tahun sebelumnya.
Menurutnya, sekitar 96 desa yang tersebar di tujuh kecamatan masuk dalam wilayah rawan kekeringan.
Daerah tersebut meliputi Kecamatan Jaken, Jakenan, Pucakwangi, Winong, Tambakromo, serta sebagian wilayah Kecamatan Gabus dan Kayen yang hampir setiap tahun mengalami kesulitan mendapatkan air bersih saat kemarau.
Untuk menghadapi potensi tersebut, BPBD telah menyiapkan empat unit truk tangki air dan delapan unit tandon berkapasitas sekitar 5.000 liter.
Fasilitas itu siap digunakan sewaktu-waktu untuk menyuplai kebutuhan air bersih bagi masyarakat di desa terdampak.
Martinus menjelaskan, pemerintah desa dapat mengajukan peminjaman tandon air dengan berkoordinasi langsung kepada BPBD.
Tandon tersebut akan dipinjamkan selama musim kemarau berlangsung guna memudahkan distribusi bantuan air bersih kepada warga.
“Silakan pemerintah desa berkoordinasi dengan BPBD, jika membutuhkan tandon air. Kami siap meminjamkan selama musim kemarau,” katanya
Sementara itu, gejala kekeringan mulai dirasakan oleh sebagian masyarakat di Kecamatan Gabus. Wati, warga Desa Gabus, mengaku sudah beberapa pekan terakhir harus mengambil air bersih di lokasi penyaluran bantuan menggunakan galon.
Untuk mencapainya, ia bersama warga lain harus melewati sungai serta jembatan sempit yang hanya dapat dilalui satu kendaraan.
Kondisi serupa juga disampaikan Komeng, warga setempat.
Ia mengatakan sebagian sungai telah mengering dan beberapa sumur milik warga tidak lagi mengeluarkan air, sehingga masyarakat kini mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah maupun pihak swasta.
Meski demikian, ia menuturkan tidak seluruh wilayah Kecamatan Gabus terdampak kekeringan. Krisis air bersih lebih banyak terjadi di beberapa RT dan dukuh, terutama kawasan yang berada di sebelah selatan jembatan.
Sumur bor miliknya sendiri masih mengeluarkan air, namun debitnya sangat kecil sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. (adr)