PATI – Ratusan warga, santri, dan peziarah dari berbagai daerah memadati kawasan Kolam Sarean atau Blumbang Sarean di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, pada malam Satu Suro, Senin (15/6/2026) malam.
Kolam yang berada di sebelah barat kompleks makam Syekh Ahmad Mutamakkin tersebut kembali menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam menyambut pergantian Tahun Baru Islam sekaligus Tahun Baru Jawa.
Sejak sore hingga menjelang tengah malam, kawasan Kolam Sarean dipenuhi pengunjung yang datang untuk mengikuti tradisi jeguran, yakni mandi atau berendam di kolam yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Tradisi ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
Suasana kawasan tampak semarak dengan gemerlap lampu di sekitar kompleks makam.
Di tengah keramaian, para pengunjung terlihat berendam di kolam, sementara sebagian lainnya memilih duduk di tepi kolam untuk menyaksikan tradisi yang hanya berlangsung setahun sekali tersebut.
Bagi masyarakat Kajen, tradisi jeguran tidak sekadar menjadi aktivitas mandi bersama.
Tradisi ini juga memiliki makna spiritual yang erat kaitannya dengan momentum malam Satu Suro.
Banyak pengunjung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdoa, melakukan introspeksi diri, serta memohon keberkahan dalam menyambut tahun yang baru.
Di tengah masyarakat, berkembang pula berbagai cerita dan keyakinan yang diwariskan secara turun-temurun terkait Kolam Sarean.
Salah satunya adalah anggapan bahwa berendam di kolam pada malam Satu Suro dapat memberikan kesegaran lahir dan batin.
Baca Juga: Menyambut Malam 1 Suro, Tradisi Kungkum di Tugu Soeharto Semarang Tetap Bertahan
Meski demikian, kepercayaan tersebut lebih dipandang sebagai bagian dari tradisi dan kearifan lokal yang terus hidup di tengah masyarakat.
Menjelang tengah malam, jumlah pengunjung semakin meningkat. Suara percakapan warga berpadu dengan gemericik air kolam yang ramai hingga dini hari. Sebagian pengunjung memilih berendam, sementara yang lain menikmati suasana khas malam Satu Suro di sekitar kawasan makam.
Di balik keramaian tersebut, nuansa religius tetap terasa kuat. Bagi masyarakat Jawa, malam Satu Suro identik dengan perenungan, doa, dan upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.
Tradisi jeguran di Kajen menjadi salah satu bentuk perpaduan antara budaya lokal dan nilai-nilai keagamaan yang masih terjaga hingga kini.
Keberadaan Kolam Sarean telah lama menjadi salah satu ikon budaya masyarakat Kajen.
Setiap malam Satu Suro, lokasi ini selalu menjadi tujuan warga maupun peziarah yang ingin merasakan tradisi khas pergantian tahun dalam penanggalan Jawa.
Hingga larut malam, aktivitas di sekitar kolam masih berlangsung. Tawa anak-anak yang bermain air serta lantunan doa para peziarah terus terdengar, menandai tetap lestarinya tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kajen selama bertahun-tahun. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab