Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Antrean Pertalite Mengular di Pati, Warga Mulai Tinggalkan Pertamax Usai Kenaikan Harga BBM

Ali Mustofa • Jumat, 12 Juni 2026 | 11:32 WIB
RAMAI: Kendaraan antre di SPBU Gajahmati pada Kamis (11/6) siang. (ANDRE FAIDHIL/RADAR KUDUS)
RAMAI: Kendaraan antre di SPBU Gajahmati pada Kamis (11/6) siang. (ANDRE FAIDHIL/RADAR KUDUS)

PATI – Perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi membuat pola konsumsi masyarakat di Kabupaten Pati ikut bergeser.

Sejumlah warga kini mulai kembali memilih Pertalite karena dinilai lebih terjangkau dibanding Pertamax yang baru saja mengalami kenaikan harga.

PT Pertamina sebelumnya resmi menyesuaikan harga BBM non-subsidi mulai Rabu (10/6). Dalam kebijakan tersebut, Pertamax (RON 92) naik cukup signifikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.

Sementara Pertamax Green 95 (RON 95) juga mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Kenaikan harga ini langsung berdampak pada aktivitas di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Pati.

Salah satunya terlihat di SPBU Gajahmati pada Kamis (11/6) siang, di mana antrean kendaraan di jalur Pertalite tampak mengular.

Tercatat, sekitar 8 hingga 11 sepeda motor serta tujuh mobil mengantre untuk mendapatkan Pertalite.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan jalur Pertamax yang justru relatif lengang, hanya diisi beberapa kendaraan saja.

Salah satu pengguna sepeda motor, Nur Ardian, mengaku keberatan dengan lonjakan harga Pertamax yang menurutnya cukup memberatkan.

“Naiknya sampai sekitar Rp 4.000 itu terasa berat. Kalau naiknya sedikit mungkin masih bisa ditoleransi,” ujarnya.

Karena alasan tersebut, ia memilih kembali menggunakan Pertalite meski harus menghadapi antrean panjang.

“Mau bagaimana lagi, walaupun antre, Pertalite masih yang paling terjangkau,” tambahnya.

Di sisi lain, sebagian pengguna kendaraan tetap memilih Pertamax meskipun harus membayar lebih mahal, atau bahkan hanya membeli dalam jumlah kecil agar tetap bisa beraktivitas.

“Terpaksa isi Pertamax, tapi cuma Rp 20.000 dulu. Yang penting cukup jalan,” kata Sony Wijaya, salah satu pengantre.

Ia bahkan menyebut kondisi antrean membuat sebagian orang merasa seperti “membeli antrean” daripada BBM.

“Daripada lama antre, lebih cepat saja meski sedikit lebih mahal,” ujarnya.

Sementara itu, Slamet Rudiyanto, pengendara mobil asal Kudus, mengaku menyesuaikan jenis BBM dengan kebutuhan perjalanan.

“Kalau untuk luar kota saya pakai Pertalite, tapi dalam kota tetap Pertamax. Menyesuaikan saja,” katanya.

Fenomena antrean Pertalite yang kembali mengular ini menunjukkan adanya penyesuaian perilaku masyarakat di tengah perubahan harga BBM, di mana faktor ekonomi masih menjadi pertimbangan utama dalam memilih jenis bahan bakar. (adr)

Editor : Ali Mustofa
#pertamax #PT pertamina #pertalite #harga bbm