PATI – Penggunaan sumur bor dalam secara besar-besaran di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, diduga menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir rob yang terus terjadi di wilayah tersebut.
Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi, mengatakan penggunaan sumur dalam mulai meningkat sejak tahun 2016, bertepatan dengan berkembangnya usaha budidaya ikan nila salin di desa tersebut.
Menurutnya, selain dipengaruhi faktor alam, masifnya pemanfaatan air tanah melalui sumur bor dalam turut diduga berkontribusi terhadap semakin luasnya genangan rob.
“Sejak tahun 2016 masyarakat mulai banyak membudidayakan ikan nila salin. Seiring itu, penggunaan sumur dalam semakin meningkat dan sulit dikendalikan,” ujar Setyo.
Ia menjelaskan, berdasarkan data pemerintah desa, jumlah sumur bor terus bertambah dari tahun ke tahun.
Saat ini tercatat ada 342 titik sumur dalam yang tersebar di wilayah desa.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 238 titik berada di kawasan permukiman warga, sedangkan 104 titik lainnya digunakan untuk kebutuhan tambak.
Sebagian besar sumur memiliki kedalaman minimal 90 meter dengan ukuran pipa sekitar 4 inci.
Setyo menambahkan, penggunaan air tanah yang begitu intensif berdampak pada berkurangnya debit air di sumur-sumur konvensional milik warga.
Bahkan, sejumlah sumur dangkal kini tidak lagi mengeluarkan air seperti sebelumnya.
Dalam budidaya ikan nila salin, kebutuhan air tawar memang sangat tinggi.
Pasalnya, ikan nila tidak dapat berkembang dengan baik di lingkungan yang memiliki kadar garam terlalu tinggi.
Karena itu, pasokan air dari sumur bor digunakan hampir tanpa henti untuk menjaga kualitas air tambak.
“Untuk budidaya nila salin, kebutuhan air tawarnya besar karena ikan tidak cocok dengan kadar garam yang tinggi. Akibatnya, pompa air di tambak beroperasi hampir sepanjang hari,” jelasnya.
Ia menilai pengambilan air tanah secara terus-menerus berpotensi memicu penurunan muka tanah di Desa Tunggulsari.
Indikasinya terlihat dari semakin meluasnya area yang terdampak rob setiap tahun.
Jika sebelumnya genangan hanya terjadi di wilayah RT 5, kini rob telah merambah hingga RT 3.
Kondisi itu juga terlihat dari jalan-jalan yang telah ditinggikan namun kembali tergenang pada tahun berikutnya.
“Secara kasat mata dampaknya sangat terasa. Setiap tahun rob semakin meluas. Jalan yang sudah ditinggikan beberapa waktu kemudian kembali terendam. Itu menjadi indikasi kuat bahwa terjadi penurunan permukaan tanah,” kata Setyo.
Untuk memastikan dugaan tersebut, pemerintah desa telah mengirimkan surat kepada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah.
Mereka berharap dapat dilakukan penelitian lebih lanjut agar pemerintah memiliki dasar yang kuat dalam menyusun langkah penanganan rob dan mitigasi dampak lingkungan di wilayah tersebut. (aua)