PATI – Sedekah bumi di Desa Kudur Kecamatan Winong Kabupaten Pati cukup unik dan berbeda dari daerah lain. Hal ini terlihat dari adanya pentas wayang golek.
Wayang golek identik dengan kesenian masyarakat Jawa Barat, namun di Desa Kudur wayang golek menjadi pentas wajib setahun sekali untuk memeriahkan kegiatan sedekah bumi yang digelar pada bulan Apit dalam kalender Jawa.
Wayang golek dipentaskan di punden Ronggo Joyo RT 6 RW 1 Dukuh Jati Desa Kudur. Pentas dimulai selepas waktu duhur hingga sore hari.
Di komplek punden yang teduh dengan pohon – pohon besar dan rumpun bambu itu warga setempat asyik menikmati pertunjukan wayang golek.
Kursi – kursi plastik yang tersedia penuh, sebagian yang tidak kebagian kursi, duduk seadanya. Anak – anak, remaja, orang tua berbaur menjadi satu menyaksikan pentas wayang golek ini.
Kepala Desa Kudur, Wardoyo mengungkapkan pentas wayang golek sudah turun-temurun. Bahkan sejak ia kecil, wayang golek sudah ada dipentaskan di Desa Kudur.
“Sudah sejak nenek moyang, karena ini tradisi. Setiap sedekah bumi ya wayang golek. Di Pati ini satu-satunya yang ada wayang golek. Setiap sedekah bumi dipentaskan di Punden Ronggo Joyo, Dukuh Njati, Desa Kudur," jelas Wardoyo.
Lakon wayang golek, lanjut Wardoyo, adalah Among Tani. Lakon ini selaras dengan kondisi masyarakat Desa Kudur yang kental dengan budaya agraris.
Tema tersebut menggambarkan wujud syukur masyarakat desa atas hasil panen yang melimpah, mulai dari padi, jagung, dan ketela.
"Among Tani untuk petani, mudah-mudahan dijauhkan dari bala dan diberi barokah pertanian padi, jagung, ketela, tidak ada hama di sini. Warga desa sini kebanyakan memang petani,” ungkap kades yang sudah menjabat selama 20 tahun itu.
Di periode ketiganya memimpin masyarakat Desa Kudur, Wardoyo berharap kesenian wayang golek di desanya tetap lestari.
“Semoga kesenian wayang golek tetap lestari di Desa Kudur,” pungkasnya. (aua)
Editor : Achmad Ulil Albab