PATI – Tradisi sedekah bumi di Desa Kudur, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati memiliki keistimewaan tersendiri yang jarang ditemui di daerah lain.
Salah satu cirinya adalah kehadiran pertunjukan wayang golek yang selalu menjadi bagian penting dalam perayaan tahunan tersebut.
Kesenian wayang golek selama ini dikenal sebagai budaya khas masyarakat Jawa Barat.
Namun di Desa Kudur, pertunjukan ini justru menjadi agenda wajib setiap tahun untuk memeriahkan sedekah bumi yang dilaksanakan pada bulan Apit dalam kalender Jawa.
Pentas wayang golek digelar di Punden Ronggo Joyo, RT 6 RW 1 Dukuh Jati, Desa Kudur, pada Minggu (10/5).
Pertunjukan dimulai selepas salat duhur hingga menjelang sore.
Suasana di area punden yang rindang dengan pepohonan besar dan rumpun bambu terasa hidup oleh antusiasme warga yang datang menyaksikan.
Kursi plastik yang disediakan panitia penuh terisi.
Sebagian warga yang tidak kebagian tempat duduk memilih duduk di tanah atau berdiri di sekitar lokasi.
Anak-anak, remaja, hingga orang tua tampak berbaur menikmati pertunjukan bersama.
Kepala Desa Kudur, Wardoyo, menuturkan bahwa tradisi wayang golek sudah berlangsung sejak lama dan diwariskan turun-temurun.
Ia bahkan mengaku sejak kecil sudah menyaksikan pertunjukan tersebut digelar di desanya.
Menurutnya, di Kabupaten Pati hanya Desa Kudur yang rutin menampilkan wayang golek dalam rangkaian sedekah bumi.
Pertunjukan tersebut selalu digelar di Punden Ronggo Joyo, Dukuh Jati.
Lakon yang dipentaskan adalah “Among Tani”, tema yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat setempat yang mayoritas berprofesi sebagai petani.
Cerita tersebut menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen seperti padi, jagung, dan ketela.
Melalui pertunjukan itu, masyarakat berharap dijauhkan dari hama dan bencana serta diberikan keberkahan dalam sektor pertanian.
Memasuki periode ketiga kepemimpinannya, Wardoyo berharap kesenian wayang golek di Desa Kudur dapat terus dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman. (aua)