PATI – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat ribuan kapal nelayan berukuran di atas 30 GT di Juwana terpaksa berhenti beroperasi.
Hingga kini, aktivitas melaut belum kembali berjalan karena biaya operasional dinilai terlalu tinggi.
Harga BBM nonsubsidi yang menembus kisaran Rp30 ribu per liter dianggap sangat memberatkan.
Sebelumnya, saat harga masih berada di sekitar Rp17 ribu per liter saja, para nelayan sudah merasakan tekanan biaya.
Kenaikan hampir dua kali lipat tersebut membuat banyak nelayan memilih menambatkan kapal mereka di pelabuhan.
Dampaknya, puluhan ribu nelayan kini kehilangan mata pencaharian sementara.
Aktivitas di tempat pelelangan ikan ikut lesu, bahkan sejumlah usaha pengolahan ikan terpaksa menghentikan kegiatan karena pasokan bahan baku menurun drastis.
“Kami tidak bisa melaut karena biaya operasional terlalu tinggi. Sekarang banyak yang menganggur, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar cicilan bank saja kesulitan,” ujar Agus Utomo, salah satu nelayan.
Para nelayan berharap pemerintah segera menghadirkan solusi, sebab kenaikan harga BBM dinilai langsung memukul perekonomian mereka.
Pemilik kapal, Mohammad Agung, menilai dengan harga saat ini kapal tidak mungkin beroperasi.
“Dengan BBM Rp30 ribu per liter, kapal tidak bisa jalan. Idealnya di kisaran Rp13–15 ribu per liter agar nelayan bisa kembali melaut,” jelasnya.
Ia menambahkan, sekitar 70 persen biaya melaut terserap untuk kebutuhan BBM, sehingga kenaikan harga sangat berdampak besar pada keberlangsungan usaha perikanan.
Sebagai bentuk protes, para nelayan berencana menggelar aksi demonstrasi pada Senin (4/5) di Alun-Alun Simpanglima Pati.
Aksi tersebut diperkirakan melibatkan sekitar 10 ribu massa yang menuntut peninjauan kembali kenaikan harga BBM. (aua)
Editor : Ali Mustofa