PATI – Seorang siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Karaban diduga menjadi korban pengeroyokan oleh beberapa teman sekelasnya.
Peristiwa tersebut menimbulkan keprihatinan, mengingat lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar.
Kepala Desa Karaban, Kusnan, membenarkan adanya kejadian yang menimpa salah satu siswa di sekolah tersebut.
Berdasarkan informasi yang ia terima, insiden itu diduga berawal dari ajakan sejumlah siswa kepada korban untuk ikut patungan membeli sound system.
Namun karena diduga tidak memiliki uang untuk ikut iuran, korban kemudian menjadi sasaran ejekan hingga berujung pada tindakan perundungan.
“Peristiwa itu memang terjadi kemarin. Anak-anak mengajak korban urunan untuk membeli sound system. Mungkin karena tidak punya uang, akhirnya dia dibully,” kata Kusnan.
Akibat kejadian tersebut, korban dilaporkan mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya.
Pihak keluarga kemudian membawa anak tersebut ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan medis guna memastikan tidak ada cedera serius, terutama pada bagian kepala atau organ dalam.
“Keluarga khawatir ada luka di kepala atau bagian dalam tubuhnya, sehingga dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Informasinya, rencananya hari ini sudah bisa pulang,” jelasnya.
Kusnan mengaku belum mengetahui secara pasti kondisi kesehatan terbaru dari korban.
Ia juga menyampaikan bahwa dirinya pertama kali mengetahui kejadian tersebut dari unggahan yang beredar di media sosial Facebook.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, ia segera mengingatkan pihak sekolah agar meningkatkan pengawasan terhadap para siswa agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Saya pertama tahu dari Facebook. Setelah itu saya langsung mengingatkan kepala sekolah agar masalah ini segera diselesaikan karena bisa menimbulkan dampak yang lebih luas,” ujarnya.
Pemerintah Desa Karaban kemudian memfasilitasi pertemuan antara pihak sekolah dan keluarga korban guna mencari penyelesaian terbaik.
Dalam mediasi yang digelar tersebut, kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan.
“Tadi pagi sudah dilakukan mediasi antara pihak sekolah dan wali murid. Saya juga hadir dalam pertemuan itu. Sudah ada kesepakatan bersama, dan orang tua siswa yang terlibat bersedia memberikan bantuan secara materi kepada korban,” ungkapnya.
Selain itu, pihak sekolah juga berkomitmen melakukan evaluasi internal dan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas para siswa di lingkungan sekolah.
Pemerintah desa pun berencana melibatkan aparat kepolisian dan TNI untuk memberikan edukasi kepada siswa serta orang tua mengenai bahaya perundungan.
“Saya juga menekankan agar masalah ini tidak berkembang ke mana-mana. Nantinya para wali murid akan diberi pemahaman, dan kami juga akan mengundang pihak kepolisian serta TNI untuk memberikan edukasi agar kejadian seperti ini tidak terulang,” pungkasnya. (adr)