PATI - Di bawah naungan langit mendung dan sisa genangan yang belum mengering, Kepala Desa Dukuhseti, Ahmad Rifai, menyusuri jalan desa yang kini tak ubahnya aliran sungai.
Air berwarna kecokelatan menutup hampir seluruh badan jalan, meninggalkan lumpur licin yang rawan membahayakan.
Meski demikian, kondisi tersebut tak menyurutkan langkahnya untuk menemui warga yang tengah tertimpa musibah banjir.
Baca Juga: Banjir Rendam SDN Semampir Pati, Siswa Terpaksa Diliburkan
Siang itu, dengan celana dinaikkan hingga sebatas lutut dan sepatu yang telah basah kuyup, Ahmad Rifai membawa tekad pengabdian yang jauh lebih berat daripada bantuan di tangannya.
Beberapa kali kakinya terpeleset akibat licinnya jalan. Warga yang mendampingi sigap menopang tubuhnya agar tidak jatuh.
Bukannya mengeluh atau berhenti, ia justru tersenyum tipis lalu kembali melangkah.
“Yang terpenting bantuan bisa sampai ke warga,” ucapnya singkat namun sarat makna.
Banjir kali ini disebut lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Air merendam hampir seluruh wilayah desa, terutama Dukuh Kedawung, sebagian Krajan, Oro Tengah, Seti, serta Slempung yang hampir seluruh kawasannya terdampak.
Banyak rumah warga tergenang, perabotan rusak terbawa arus, dan aktivitas masyarakat lumpuh total.
Dalam situasi seperti ini, kehadiran seorang pemimpin desa bukan sekadar menjalankan tugas administratif, tetapi juga menunjukkan empati dan memberi contoh nyata.
Bantuan yang dibagikan berupa paket sembako dan mi instan, kebutuhan pokok yang sangat berarti bagi warga yang terisolasi banjir.
Sebelum disalurkan, warga bersama perangkat desa bergotong royong mengemas bantuan agar lebih rapi dan mudah dibagikan. Kebersamaan terasa kental.
Di tengah keterbatasan, semangat gotong royong menjadi kekuatan utama masyarakat Dukuhseti.
Aksi kemanusiaan ini tidak hanya melibatkan kepala desa. Perangkat desa, kader PKK, para pemuda, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta warga sekitar turut turun tangan.
Baca Juga: Curah Hujan Tinggi Picu Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah Pati
Mereka menyusuri gang sempit dan jalan desa yang terendam air, mendatangi rumah-rumah warga satu per satu. Lansia dan anak-anak menjadi kelompok yang diutamakan.
Bagi Ahmad Rifai, kegiatan ini bukan sekadar kewajiban jabatan, melainkan panggilan nurani.
Ia ingin memastikan tak seorang pun warganya merasa sendirian menghadapi bencana.
“Kami ingin masyarakat tahu bahwa pemerintah desa selalu hadir bersama mereka, dalam kondisi apa pun,” tuturnya.
Ia juga menilai, banjir yang semakin sering dan parah tidak hanya dipicu curah hujan tinggi, tetapi turut dipengaruhi kondisi lingkungan yang kian memprihatinkan.
Banyak kawasan hutan di sekitar desa mulai gundul dan minim tanaman keras yang seharusnya berfungsi menahan air serta mencegah erosi.
Akibatnya, air hujan langsung mengalir deras ke permukiman tanpa penghalang alami.
“Ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” katanya menambahkan.
Baca Juga: Sidang Eksepsi di PN Pati, Pentolan AMPB Bantah Dakwaan Jaksa
Di sela penyaluran bantuan, raut wajah letih warga perlahan berubah menjadi lega. Kedatangan rombongan disambut senyum haru.
Ada yang tak kuasa menahan air mata, ada pula yang berkali-kali mengucapkan terima kasih.
Bagi mereka, bantuan tersebut bukan semata soal sembako, tetapi juga wujud kepedulian dan sumber harapan.
Upaya Ahmad Rifai menembus genangan banjir menjadi gambaran kecil kepemimpinan yang mengedepankan kehadiran dan keteladanan.
Ia tidak menunggu situasi membaik, melainkan justru mendatangi warganya saat kondisi paling sulit.
Baca Juga: Perkuat Sinergi Komunikasi Publik, Prokompim Setda Pati Kunjungi Kantor Jawa Pos Radar Kudus
Di balik lumpur dan air yang menggenang, tersirat pesan kuat tentang arti seorang pemimpin sejati.
Di akhir kegiatan, Ahmad Rifai juga menyampaikan harapannya agar peristiwa banjir ini menjadi bahan evaluasi bersama bagi semua pihak, khususnya terkait kondisi lingkungan.
Ia berharap adanya penataan yang lebih serius serta langkah antisipasi yang dilakukan secara maksimal.
Menurutnya, upaya tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi harus melibatkan masyarakat secara aktif.
Dengan membangun kesadaran, memberikan arahan, dan edukasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan serta daerah resapan air, potensi bencana di masa mendatang diharapkan dapat ditekan.
“Banjir ini semestinya menjadi pelajaran bersama agar ke depan kita lebih siap dan lebih peduli terhadap alam,” ujarnya penuh harap.
Editor : Ali Mustofa