Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tradisi Unik Warga Juwana, Pati, Berkat Isinya Bukan Nasi, Melainkan Bandeng

Andre Faidhil Falah • Senin, 17 November 2025 | 21:32 WIB
DISIAPKAN: Warga Desa Bakaranwetan mempersiapkan tradisi berkat bandeng di tambak setempat kemarin.
DISIAPKAN: Warga Desa Bakaranwetan mempersiapkan tradisi berkat bandeng di tambak setempat kemarin.

PATI - Desa Bakaranwetan, Kecamatan Juwana, tengah bersiap menggelar Festival Berkat Bandeng pada 21–23 November mendatang.

Festival ini mengusung semangat ekologi yang dipadukan dengan tradisi dan nilai budaya masyarakat pesisir.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Pemajuan Kebudayaan Desa.

Kepala Desa Bakaranwetan, Wahyu Supriyo, menjelaskan bahwa festival ini diharapkan dapat menumbuhkan kembali kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem tambak bandeng.

Menurutnya, nilai-nilai pelestarian lingkungan sebenarnya telah hidup dalam berbagai tradisi masyarakat.

“Seperti tradisi Krigan atau gotong royong membersihkan sungai. Dulu tradisi itu kuat. Melalui festival ini, kami ingin membangkitkan kembali nilai ekologis yang pernah diwariskan,” ujarnya.

Wahyu menegaskan bahwa sungai memiliki peran vital bagi kehidupan para petani tambak bandeng.

Sungai yang terjaga menjadi penentu kualitas hasil budidaya. “Sungai bukan hanya jalur air, tetapi urat nadi kehidupan ribuan petani tambak.

Dari sanalah masyarakat belajar tentang keseimbangan ekologi yang harus dijaga. Jika alam terganggu, ekonomi juga ikut terdampak,” jelasnya.

Dari semangat menjaga sungai inilah lahir gagasan “Festival Berkat Bandeng”, yang bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga bentuk pengabdian ekologis masyarakat terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Festival ini turut menegaskan keterhubungan antara ekologi, tradisi, dan ekonomi rakyat.

Dalam sejumlah ritual tradisional seperti manganan sigit, kirab tumpeng, hingga berkat bandeng, masyarakat setempat memilih ikan bandeng sebagai lauk utama sesaji.

Pilihan ini menunjukkan kedekatan masyarakat Bakaranwetan dengan bandeng sejak masa lampau, sekaligus menandai identitas khas mereka yang berbeda dari daerah lain di Pati.

Rangkaian Festival Berkat Bandeng akan mencakup berbagai kegiatan, di antaranya Rembuk Kali, prosesi wiwit panen, tari bandeng, pameran seni rupa, lomba olahan bandeng, hingga makan bandeng bersama.

Seluruh kegiatan dipusatkan di Taman Batik Bakaranwetan serta area tambak petinggen.

Festival ini juga diharapkan mampu memperkuat branding Kecamatan Juwana sebagai salah satu penghasil bandeng terbesar di Pati.

Berdasarkan data Dislautkan Kabupaten Pati tahun 2025, Juwana memproduksi 8.368,76 ton bandeng dari total 24.361,2 ton produksi bandeng kabupaten, dan sebagian besar berasal dari tambak di Bakaranwetan.

Hasil budidaya tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga dipasok ke kota besar seperti Semarang dan Jakarta.

Selain menjual bandeng segar, masyarakat Bakaranwetan juga mengolahnya menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi seperti bandeng presto, bandeng cabut duri, otak-otak bandeng, dan aneka olahan lainnya.

Produk-produk ini turut mendorong pertumbuhan UMKM dan meningkatkan perekonomian desa.

“Maka menjaga sungai bukan hanya menjaga air, tetapi juga menjaga masa depan. Festival ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat luas bahwa ekologi dan ekonomi bukan dua hal yang bertentangan, melainkan satu kesatuan menuju keberlanjutan,” pungkas Wahyu. (adr)

Editor : Mahendra Aditya
#bandeng #Ritual tradisional #manganan sigit #tradisi #kirab tumpeng #berkat bandeng #Berkat