Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jalur Pantura Pati-Rembang Terendam, Permukiman Juga Kebanjiran

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 28 Oktober 2025 | 17:02 WIB
KEBANJIRAN: Warga Desa Ketitangwetan menjalankan aktifitas sehari-hari ditengah gena    KEBANJIRAN: Warga Desa Ketitangwetan menjalankan aktifitas sehari-hari ditengah genangan air pada Senin (27/10).
KEBANJIRAN: Warga Desa Ketitangwetan menjalankan aktifitas sehari-hari ditengah gena KEBANJIRAN: Warga Desa Ketitangwetan menjalankan aktifitas sehari-hari ditengah genangan air pada Senin (27/10).

PATI - Rasa frustrasi kini melanda warga Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati.

Dalam waktu kurang dari sepekan, wilayah mereka dua kali dilanda banjir akibat meluapnya Sungai Widodaren. 

Rumah-rumah kembali tergenang, dapur tidak bisa digunakan, dan akses jalan terputus.

Karena merasa diabaikan oleh Pemerintah Kabupaten Pati, warga pun memilih meluapkan keluhannya langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

Pantauan di lokasi, Senin (27/10), genangan air masih merendam permukiman warga dengan ketinggian antara 70 sentimeter hingga satu meter. Aktivitas masyarakat lumpuh total.

Sebagian besar warga, terutama perempuan dan anak-anak, memilih mengungsi ke rumah kerabat di daerah yang lebih tinggi.

Sementara itu, para pria berjaga di rumah masing-masing untuk menyelamatkan barang-barang berharga yang belum sempat diangkat.

Tak kuat menahan kesedihan dan kekecewaan, sekelompok warga terlihat berdiri di tengah genangan air sambil mengangkat poster bertuliskan permohonan bantuan kepada Presiden Prabowo.

Mereka berharap pemerintah pusat turun tangan langsung karena tanggul Sungai Widodaren yang jebol sejak tahun lalu belum kunjung diperbaiki secara permanen.

“Sudah hampir seminggu kami kebanjiran, tapi belum ada bantuan dari Pemkab. Kami mohon kepada Bapak Presiden Prabowo, tolong bantu kami dan perbaiki tanggul yang jebol supaya air tidak masuk lagi ke rumah,” ujar Suwarti.

Kini, harapan warga hanya satu, agar Presiden Prabowo Subianto mendengar jeritan mereka dan segera memerintahkan instansi terkait untuk turun tangan memperbaiki tanggul secara permanen.

“Kalau dibiarkan, kami nggak tahu harus tinggal di mana lagi. Setiap tahun selalu begini,” ujar Suwarti lirih.

Menurut keterangan Ali Maskuri, warga lainnya, banjir kali ini lebih parah dibanding sebelumnya karena tanggul sementara yang dibuat warga tidak mampu menahan derasnya arus sungai.

“Banjir nggak surut-surut, malah tambah tinggi. Karena hujan terus, sementara tanggul yang jebol juga belum diperbaiki secara permanen. Harusnya pemerintah bikin tanggul permanen biar nggak banjir tiap tahun,” katanya.

Data dari pemerintah desa menyebutkan, sedikitnya 800 rumah warga terendam air, dengan 2.000 jiwa terdampak langsung.

Sebagian besar warga kini bergantung pada bantuan tetangga dan donasi pribadi. Dapur mereka tidak bisa dipakai memasak karena peralatan dan tungku terendam air.

Warga sangat membutuhkan makanan siap saji, selimut, air bersih, dan obat-obatan.

Tak hanya permukiman, banjir juga merendam ruas Jalan Pantura Pati–Rembang, tepatnya di depan Desa Ketitangwetan.

Air dengan ketinggian antara 15 hingga 30 sentimeter membuat arus lalu lintas melambat hingga satu kilometer dari dua arah.

Meski demikian, kendaraan dari arah Semarang maupun Surabaya masih bisa melintas dengan hati-hati.

Kanit Turjawali Satlantas Polresta Pati, Iptu Purwanto, menjelaskan bahwa genangan air mulai muncul sekitar pukul 04.00 WIB.

“Benar, ada perlambatan arus di jalur Pantura Pati–Rembang akibat luapan Sungai Widodaren. Petugas gabungan dari Satlantas dan Polsek Batangan sudah diterjunkan untuk mengatur lalu lintas,” ujarnya. (adr)

Editor : Ali Mustofa
#tergenang air #akses jalan #banjir #pati #permukiman warga