PATI – Suasana Simpang Lima Pati pada Selasa malam berubah menjadi lautan cahaya. Ratusan warga berkumpul dan menyalakan lilin di sisi utara alun-alun kota, tepat berhadapan dengan kantor bupati.
Aksi ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan masyarakat atas absennya bupati yang sudah sepekan tidak berada di pendopo kabupaten.
Tanpa ada instruksi resmi, warga datang secara bergelombang. Ada ibu rumah tangga, bapak-bapak, hingga anak muda yang membawa lilin dari rumah masing-masing.
Ukurannya pun beragam, mulai dari lilin kecil sederhana hingga lilin merah berukuran besar seperti yang biasa ditemui di klenteng.
Cahaya lilin yang berjejer rapi segera menarik perhatian warga lain yang kebetulan sedang berada di pusat kota. Banyak di antara mereka berhenti sejenak, mengambil foto, dan menjadikan momen itu sebagai latar untuk berswafoto.
Pemandangan tersebut membuat suasana alun-alun tampak berbeda dari biasanya—lebih khidmat sekaligus penuh tanda tanya.
Perwakilan dari komunitas Masyarakat Pati Bersatu, Hanif Wagirin, menegaskan bahwa kegiatan menyalakan lilin ini bukan inisiatif organisasinya.
Menurutnya, aksi itu muncul murni dari antusiasme masyarakat yang merasa perlu menyuarakan keprihatinan atas kondisi yang sedang terjadi di pemerintahan daerah.
“Kami tidak mengoordinasi acara ini. Sepertinya ini murni spontanitas warga. Jadi intinya bukan dari Masyarakat Pati Bersatu,” ungkap Hanif.
Baca Juga: Sebelum Heboh 250%, Kenaikan PBB Pati Sempat Diusulkan Naik 1.000 %, Begini Ceritanya
Kendati demikian, Hanif mengakui bahwa munculnya aksi lilin ini tak lepas dari adanya sebuah pamflet yang sempat beredar di media sosial.
Dalam pamflet itu tertulis ajakan untuk menggelar aksi 1.000 lilin sebagai peringatan tujuh hari absennya bupati dari pendopo.
Informasi tersebut cepat menyebar dan mengundang rasa penasaran warga, sehingga banyak yang datang dengan membawa lilin secara sukarela.
Bagi masyarakat yang hadir, menyalakan lilin di alun-alun bukan sekadar simbol. Mereka menganggapnya sebagai bentuk doa dan harapan agar bupati segera kembali menjalankan tugasnya.
Keberadaan pemimpin daerah, menurut mereka, sangat penting dalam memastikan jalannya pemerintahan, terlebih di tengah berbagai isu strategis yang sedang dihadapi Kabupaten Pati.
Aksi itu juga mencerminkan cara masyarakat menyampaikan aspirasi secara damai. Tanpa orasi, tanpa spanduk besar, mereka memilih mengekspresikan sikap dengan cahaya lilin. “Lilin ini simbol harapan.
Kami ingin situasi kembali terang, tidak dibiarkan berlarut dalam ketidakjelasan,” ujar salah seorang warga yang turut hadir.
Mendadak Jadi Spot Foto
Meski berangkat dari rasa prihatin, fenomena lilin di Simpang Lima ternyata juga menarik perhatian kaum muda yang memandangnya sebagai momen unik. Banyak remaja dan pengunjung alun-alun yang menjadikan barisan lilin sebagai latar foto.
Beberapa bahkan mengunggahnya di media sosial dengan berbagai caption, mulai dari yang bernuansa serius hingga sekadar dokumentasi suasana kota.
Fenomena itu menandakan bahwa aksi warga tidak hanya menyuarakan aspirasi, tetapi juga menyebar secara viral.
Foto-foto barisan lilin pun beredar luas di dunia maya, memantik diskusi warganet tentang absennya bupati dan bagaimana masyarakat Pati memilih bereaksi.
Aksi Damai Tanpa Provokasi
Menariknya, meskipun terjadi secara spontan dan diikuti banyak warga, aksi menyalakan lilin berlangsung tertib.
Tidak ada laporan kericuhan atau provokasi. Aparat keamanan yang berjaga hanya memastikan lalu lintas tetap lancar dan situasi kondusif.
Masyarakat terlihat saling menghormati, sebagian menunduk berdoa, sebagian lain hanya berdiri menyaksikan.
Semua berlangsung dalam suasana damai. Hal ini menambah nilai simbolis bahwa warga Pati bisa menyampaikan sikap secara tertib tanpa harus menimbulkan kegaduhan.
Hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai keberadaan bupati yang sudah sepekan tidak terlihat di pendopo kabupaten.
Ketidakhadiran ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat, karena pemimpin daerah memiliki peran vital dalam roda pemerintahan.
Aksi lilin yang muncul spontan menjadi semacam penegasan bahwa publik menantikan kejelasan.
Warga ingin mengetahui alasan sebenarnya di balik absennya bupati, sekaligus memastikan bahwa urusan pemerintahan tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Peristiwa lilin di Simpang Lima Pati menjadi gambaran bagaimana masyarakat bisa bersatu menyuarakan aspirasi dengan cara damai.
Lilin-lilin yang menyala bukan hanya cahaya penerang malam, tetapi juga simbol harapan agar kejelasan segera hadir bagi masa depan kabupaten. (adr)
Editor : Mahendra Aditya