Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Update Terkini Demo pati 13 Agustus, Ribuan Warga Penuhi Kantor Bupati Pati

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 13 Agustus 2025 | 17:29 WIB
Peserta aksi demonstrasi 13 Agustus 2025 dari berbagai sudut di wilayah Pati memadaTi pusat kota.
Peserta aksi demonstrasi 13 Agustus 2025 dari berbagai sudut di wilayah Pati memadaTi pusat kota.

Pati – Gelombang massa dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu memenuhi kawasan depan Kantor Bupati Pati, Rabu (13/8/2025) pagi.

Aksi yang berlangsung sejak pukul 08.20 WIB ini menjadi puncak protes warga terhadap sejumlah kebijakan Bupati Sudewo, dengan tuntutan utama agar ia segera mundur dari jabatannya.

Di lokasi, massa membawa spanduk, pengeras suara, dan kendaraan truk tronton yang digunakan sebagai panggung orasi. Dari atas truk tersebut, berbagai perwakilan aliansi menyampaikan aspirasi secara bergantian.

Koordinator aksi, Husein, mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang hadir dengan antusias, meski sebagian datang dari desa-desa yang jauh.

“Hari ini, Bupati Sudewo harus lengser. Ini suara rakyat. Kami datang dengan hati yang tulus untuk meminta beliau mundur,” tegasnya.

Sejumlah orator lain menyoroti kondisi ekonomi warga yang sedang sulit, ditambah kebijakan daerah yang dianggap membebani masyarakat kecil.

“Kami ini masyarakat bawah, bukan orang kaya. Ekonomi lagi susah, tapi kebijakan malah menekan. Kami minta Bupati legowo mundur demi kebaikan bersama,” ujar salah satu warga dari atas truk.

Akar Masalah: Dari Pajak Hingga Kebijakan Pendidikan

Aksi besar-besaran ini tidak muncul secara tiba-tiba. Awalnya, warga Pati memprotes rencana kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen yang diumumkan Bupati Sudewo.

Meski kebijakan tersebut akhirnya dibatalkan setelah menuai kritik keras, warga tetap memutuskan turun ke jalan.

Kemarahan masyarakat makin membesar setelah muncul keluhan lain terkait sejumlah kebijakan daerah.

Koordinator donasi aksi, Teguh Istyanto, menjelaskan bahwa ada beberapa keputusan Bupati yang dinilai merugikan masyarakat, di antaranya:

  1. Sistem lima hari sekolah yang memengaruhi waktu belajar siswa dan memicu pro-kontra di kalangan orang tua.

  2. Program regrouping sekolah yang menyebabkan penggabungan sejumlah sekolah, berdampak pada hilangnya pekerjaan bagi sebagian guru honorer.

  3. Pemutusan hubungan kerja ratusan pegawai honorer RSUD RAA Soewondo dengan alasan efisiensi, tanpa pesangon atau kompensasi, disertai perekrutan karyawan baru.

“Dampaknya jelas terasa. Guru honorer kehilangan tempat mengajar, sementara di rumah sakit, banyak pegawai lama yang diberhentikan begitu saja,” ungkap Teguh.

Pengalihan Arus Lalu Lintas

Besarnya jumlah massa yang hadir membuat Polresta Pati menerapkan rekayasa lalu lintas. Sejak pukul 07.00 WIB, arus kendaraan di sekitar Alun-Alun Pati dialihkan demi kelancaran mobilitas dan keamanan.

Kasat Lantas Polresta Pati, Kompol Riki Fahmi Mubarok, menyebut pengalihan arus berlaku di sejumlah jalan utama, termasuk Jalan Tondonegoro, Jalan R.A. Kartini, Jalan Kyai Saleh, Jalan Rogowongso, Simpang 4 Kalinyar, Jalan Setia Budi, Jalan Pemuda, Jalan Raya Pati, hingga Simpang 3 Taruna Motor.

“Kami imbau warga Pati maupun pengendara dari luar daerah untuk menghindari kawasan Alun-Alun sementara waktu hingga aksi selesai,” jelas Riki dalam keterangannya.

Rekayasa lalu lintas ini diharapkan dapat mencegah kemacetan parah dan menjaga ketertiban di tengah aksi yang diperkirakan berlangsung hingga siang atau sore hari.

Aksi Damai, Dukungan Logistik Mengalir

Meski tuntutannya tegas, massa menegaskan aksi ini dilakukan secara damai. Warga dari berbagai wilayah membawa serta logistik untuk peserta unjuk rasa.

Bantuan berupa air mineral, makanan ringan, hingga perlengkapan lainnya dikumpulkan di posko-posko sekitar lokasi.

Gelombang dukungan ini menunjukkan bahwa kekecewaan terhadap kepemimpinan Bupati Sudewo telah meluas. Bahkan, sejumlah tokoh masyarakat turut hadir untuk memberikan orasi dan menyemangati peserta aksi.

Meski sebelumnya ia telah mencabut kebijakan kenaikan PBB-P2, warga menilai kerugian dan keresahan yang ditimbulkan dari berbagai kebijakan lain sudah cukup menjadi alasan bagi kepala daerah tersebut untuk melepaskan jabatannya.

“Ini bukan soal satu kebijakan saja. Ini tentang serangkaian keputusan yang membuat rakyat menderita,” ujar Husein menegaskan.

Aksi ini diperkirakan akan menjadi salah satu demonstrasi terbesar di Pati dalam beberapa tahun terakhir, mengingat jumlah peserta yang datang dari berbagai kecamatan dan desa.

Kondisi Terbaru

Hingga pukul 10.00 WIB, situasi di sekitar Kantor Bupati Pati terpantau terkendali, meski kepadatan massa terus meningkat.

Aparat keamanan dari kepolisian dan TNI berjaga di berbagai titik untuk memastikan jalannya aksi tetap aman.

Belum ada pernyataan resmi dari pihak Bupati Sudewo terkait tuntutan pengunduran diri yang disuarakan massa.

Sementara itu, masyarakat Pati menunggu respons pemerintah daerah atas gelombang protes yang terjadi.

Editor : Mahendra Aditya
#pati demo #pemdes pati #demo besar pati 13 agustus #pati memanas #2684 personel gabungan dikerahkan amankan demo pati #Demo di Pati #demo bupati pati tetap dilaksanakan #pengamanan demo pati #Pengamanan demo di Pati #Bupati Pati Sudewo #demo pati #bupati pati sudewo didesak mundur