PATI - Pemkab Pati berencana melakukan monitoring ke sejumlah pasar tradisional di wilayah Bumi Mina Tani.
Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi atas merebaknya isu peredaran beras oplosan di beberapa daerah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Pati Bakti Junior Isroni mengungkapkan, sejauh ini belum ditemukan indikasi keberadaan beras oplosan di wilayah Pati.
Namun pihaknya tetap akan mengambil langkah preventif dengan melakukan pengecekan langsung ke pasar-pasar, terutama pada tingkat pengecer.
“Untuk Kabupaten Pati, sampai saat ini belum ada informasi yang valid terkait beras oplosan. Namun demikian, minggu depan kami akan turun ke lapangan melakukan monitoring di sejumlah pasar, termasuk pengecer, guna memastikan kondisi di lapangan,” terang Isroni.
Jika ditemukan indikasi adanya beras oplosan, pihaknya akan menindak sesuai aturan yang berlaku.
Langkah awal yang akan diambil adalah memberikan teguran kepada pengecer yang terlibat.
“Tindakan awal yang kami ambil jika ada indikasi, yaitu memberikan teguran sesuai ketentuan yang berlaku,” lanjutnya.
Di sisi lain, Isroni juga memastikan bahwa ketersediaan beras di Kabupaten Pati masih aman untuk tiga bulan ke depan.
Hal ini disebabkan karena wilayah tersebut telah memasuki masa panen raya dalam beberapa minggu terakhir.
“Insya Allah ketersediaan beras aman hingga tiga bulan ke depan,” ujarnya menegaskan.
Selain itu, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disalurkan oleh pemerintah melalui Perum Bulog juga mulai beredar di pasar-pasar.
Setidaknya telah tersedia di tiga lokasi, yakni Pasar Sleko II, Pasar Rogowangsan, dan Pasar Puri.
“Ketersediaan beras SPHP sudah mencukupi dan mulai masuk ke tiga pasar tersebut. Kehadiran beras ini diharapkan mampu membantu menjaga stabilitas harga dan stok pangan di pasaran,” tutup Isroni. (adr)
Editor : Mahendra Aditya