PATI - Warga Pegunungan Kendeng berinisiatif melakukan penghijauan di sana. Selain penanaman, mereka menggandeng akademisi untuk melakukan riset tanaman.
Meski masih berada dalam musim kemarau, hujan yang mengguyur wilayah Pegunungan Kendeng, tepatnya di Desa Wukirsari, Kecamatan Tambakromo, selama dua hari berturut-turut membawa berkah tersendiri bagi masyarakat setempat. Komunitas Kendeng Hijau bersama Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) memanfaatkan momen langka ini untuk melanjutkan komitmen mereka dalam menjaga dan merawat bumi melalui aksi nyata penanaman pohon.
"Pelan tapi pasti" menjadi slogan yang terus mereka gaungkan, seiring dengan visi mulia "Satu pohon, sejuta manfaat".
Kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin bertajuk "Rabu Menanam", yang telah menjadi agenda tetap JM-PPK sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam Pegunungan Kendeng.
Menurut Bambang Sutiknyo, perwakilan dari JM-PPK, gerakan ini tak hanya menjadi simbol cinta terhadap lingkungan.
Tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi. “Ini adalah wujud cinta kami untuk negeri, cinta kami untuk alam, dan tanggung jawab moral untuk merawat bumi yang kita tinggali bersama,” ujarnya.
Kegiatan penanaman kali ini juga sejalan dengan program Perhutanan Sosial, di mana masyarakat diberikan akses kelola hutan hingga 35 tahun yang dapat diperpanjang.
Tujuannya tak lain adalah untuk mewujudkan hutan yang lestari dan masyarakat yang sejahtera.
Komunitas Kendeng Hijau yang telah puluhan kali melakukan penanaman di Wukirsari, mendapat dukungan penuh dari masyarakat, termasuk Gapoktanhut Wukirsari Makmur Barokah yang turut mengelola wilayah tersebut.
Dalam kegiatan terbaru ini, sebanyak 200 pohon Beringin jenis Kimeng Mas ditanam untuk menjadi pagar alami di lokasi yang direncanakan sebagai laboratorium tanaman.
Pihaknya pun menggandeng kalangan swasta yang siap mendukung dari sisi akademik. Mereka berencana menjadikan lokasi tersebut sebagai laboratorium riset dan pengembangan tanaman, yang diharapkan kelak bisa menarik perhatian peneliti, mahasiswa, dan akademisi dari berbagai kampus. Dengan demikian, ilmu yang dihasilkan bisa didistribusikan secara luas ke masyarakat.
“Salam Kendeng Hijau. Ayo nandur ben ora gundul, yes yes.! Satu pohonku adalah warisan untuk bumiku,” seru Bambang menutup dengan semangat.
Gerakan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi komunitas lain untuk terus menumbuhkan semangat menjaga kelestarian lingkungan sebagai warisan berharga untuk generasi mendatang. (adr)
Editor : Mahendra Aditya