Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pantai Mangrove di Tayu Pati Terkikis Akibat Banjir Rob, Apa Langkah Konkret Pemerintah?

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 3 Juni 2025 | 00:22 WIB

 

WISATA: Hutan mangrove memenuhi pantai di Desa Tunggulsari, Tayu belum lama ini.
WISATA: Hutan mangrove memenuhi pantai di Desa Tunggulsari, Tayu belum lama ini.
 

PATI - Banjir rob yang melanda Desa Tunggulsari,Tayu tak hanya merendam permukiman dan tambak warga.

Bencana yang dipicu oleh pasang tinggi air laut itu juga mematikan salah satu objek wisata andalan desa, yakni pantai mangrove.

Objek wisata yang dibangun pada tahun 2018 ini mengalami kerusakan parah akibat rob yang terus menerjang.

Fasilitas seperti jembatan kayu, spot selfie, hingga warung pedagang rusak dihantam air laut.

Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi, menjelaskan bahwa dampak banjir rob tak hanya merusak rumah warga, tetapi juga memberi pukulan besar pada sektor lingkungan dan pariwisata.

“Wisata kami di Desa Tunggulsari adalah Pantai Mina Mangrove. Majunya sektor wisata sangat bergantung pada pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Wahyudi mengungkapkan, kerusakan lingkungan dimulai sejak Mei 2022, saat rob mulai mengikis hutan mangrove yang menjadi benteng alami pantai sekaligus penopang utama sektor pariwisata desa.

Dalam tiga tahun terakhir, abrasi yang terjadi terus memburuk akibat intensitas ombak yang tinggi, hingga menyebabkan penyusutan hutan mangrove seluas tiga hektare.

Akibat dari abrasi ini, berbagai fasilitas wisata rusak, termasuk lapak pedagang, jembatan kayu, dan spot-spot foto favorit.

Lebih dari itu, tanpa perlindungan mangrove, air laut kini dengan mudah menerobos hingga ke daratan.

Ketinggian air bahkan melebihi area parkir wisata dan mencapai badan jalan menuju lokasi wisata.

“Jalan yang tergenang mencapai 2,2 kilometer, dimulai dari permukiman warga hingga ke lokasi wisata.

Terdiri dari 1,8 km jalan desa menuju pantai, ditambah 400 meter ke RT 3 RW 1. Saat rob, akses jalan lumpuh.

Saat surut memang kering, tapi jalan mengalami penurunan dan rusak parah,” jelas Wahyudi.

Ia menyebutkan bahwa pada tahun 2024 lalu, sempat ada program pemulihan pariwisata dari salah satu kementerian.

Program tersebut mencakup pembangunan pemecah ombak, gapura bambu, jembatan, serta pelatihan peningkatan kapasitas bagi pengelola wisata.

Namun, kondisi saat ini membuat semangat para pengelola wisata melemah.

Wahyudi berharap, selain program infrastruktur, ke depan ada program pemberdayaan untuk membangkitkan kembali motivasi dan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan wisata.

Melihat kerusakan besar akibat rob tahun ini, Wahyudi menekankan pentingnya kepedulian dari berbagai pihak untuk mengatasi abrasi secara lebih serius.

“Harapan kami, ada langkah konkret dari semua pihak, termasuk warga dan pegiat lingkungan, untuk menahan abrasi. Entah itu dengan pemecah ombak atau penghalang lainnya, agar dampak rob tidak semakin parah,” tandasnya.

Ia meyakini, jika persoalan abrasi bisa ditangani, maka sektor pariwisata di Desa Tunggulsari dapat kembali pulih dan berkembang. (Andre Faidil Falah)

Editor : Mahendra Aditya
#Tayu pati #Tayu #Mangrove terkikis #banjir rob #mangrove