Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba'asyin Soroti Ancaman Autoimun Kehidupan Bangsa

Redaksi Radar Kudus • Senin, 19 Mei 2025 | 01:56 WIB
Pengasuh Suluk Maleman Anis Sholeh Baasyin membincang masalah autoimun dalam kehidupan berbangsa
Pengasuh Suluk Maleman Anis Sholeh Baasyin membincang masalah autoimun dalam kehidupan berbangsa

RADAR KUDUS - Persoalan autoimun, yakni kondisi ketika sistem kekebalan justru menjadi senjata makan tuan.

Antibodi yang diproduksi justru menyerang tubuh manusia sendiri.

Fenomena medis ini yang kemudian digunakan sebagai pisau analisa untuk membedah fenomena serupa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi 161 yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (17/5) mengangkatnya dengan tajuk Dongeng Peradaban Autoimun.

Menurut penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba'asyin, sistem imun sebenarnya juga terjadi dalam kehidupan sosial, berupa reaksi spontan penolakan setiap ada unsur asing yang masuk.

Tapi, sama seperti dalam fenomena medis, munculnya gejala autoimun bisa menjadi ancaman yang berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat.

Anis mengambil contoh, ketika tentara yang harusnya menjadi antibodi yang menjaga masyarakat dari ancaman yang datang dari luar, tiba-tiba malah memosisikan masyarakat yang harus dijaganya sebagai ancaman misalnya.

Atau penegak hukum, yang harusnya menjaga masyarakat dari para pelanggar hukum, tiba-tiba menggeneralisasi masyarakat sebagai pelanggar hukum.

Atau ketika para politisi yang seharusnya manyalurkan aspirasi, justru memanipulasi masyarakat dan menindas kepentingannya.

Atau ASN yang seharusnya melayani, justru menggeroti kehidupan masyarakat.

Baik terjadi secara terpisah, apalagi bila berlangsung secara bersamaan; maka bisa dipastikan ini akan melumpuhkan kehidupan masyakat.

Kecuali elemen-elemen di atas, Anis juga menyebut adanya gejala autoimun lain yang muncul, baik secara organik mau pun hasil rekayasa, dalam kehidupan masyarakat.

Ini seringkali bermula dari kebencian dan permusuhan antar atau inter kelompok maupun golongan.

Gejala semacam ini tentu akan melemahkan kohesifitas ‘tubuh’ masyarakat itu sendiri. Apalagi ketika eskalasinya meningkat dan melahirkan konflik horizontal.

"Dengan beragam cara, kekuasaan, apalagi kekuasaan modern, cenderung menciptakan  autoimun jenis ini demi menjaga dan melanggengkan kekuasaannya.

Mereka sengaja merekayasa dan memprovokasi konflik yang secara potensial ada di masyarakat, atau menaman potensi konflik baru; agar masyarakat terpecah belah dan saling berhadapan satu dengan lain. Dengan demikian lebih mudah dikuasai," jelas Anis.

Anis kemudian mengambil dua contoh terbaru untuk menjelaskannya.

Pertama isu nasab sebagai contoh dari rekayasa potensi konflik yang memang secara laten ada di masyarakat. Yang kedua, isu cebong dan kampret yang sengaja ditanam untuk membelah masyarakat berdasar perbedaan aspirasi politik.

Ironisnya kadang dendam akibat perseteruan macam ini justru diestafetkan dari generasi ke genarasi.

"Kalau hal seperti ini terus dikembangkan, maka kita sedang menanam bom waktu bagi masa depan," tegasnya.

Dengan mengutip hadits Nabi, Anis menawarkan cara untuk menghindar dari fenomena autoimun sosial.

"Ada hadits menarik, mencintailah secukupnya dan membencilah secukupnya. Jangan terlalu mencintai, karena siapa tahu yang kamu cintai suatu saat menjadi musuhmu.

Jangan pula terlalu membenci, karena mungkin yang kamu benci suatu saat bisa jadi sahabatmu," ujarnya. (Achmad Ulil Albab)

Editor : Mahendra Aditya
#Anis Sholeh Baasyin #ngaji suluk maleman #Rumah Adab Indonesia Mulia #pati #suluk maleman