PATI - Warga Desa Tambahmulyo, Jakenan memperingati tradisi sedekah bumi. Mereka mengadakan karnaval dengan berbagai gunungan yang terbuat dari hasil bumi.
Berbagai dukuh di desa itu mengarak gunungan yang berisi hasil bumi.
Mereka berjalan sejauh kurang lebih 3,5 kilometer mengelilingi desa. Arak-arakan itu diiringi semarak musik dari sound sistem serta antusiasme warga yang memadati pinggir jalan.
Yang membuat karnaval ini berbeda dari pelaksanaan tradisional pada umumnya adalah bentuk gunungan yang ditampilkan.
Jika biasanya gunungan disusun dalam bentuk kerucut sederhana, maka warga Tambahmulyo justru memilih pendekatan yang lebih kreatif dan eksperimental.
Yakni dengan mengubah hasil bumi menjadi berbagai bentuk artistik. Mulai dari naga raksasa, ular kobra, tokoh wayang, hingga menara.
Semua bentuk tersebut disusun secara detail menggunakan berbagai hasil tani seperti padi, kacang panjang, tomat, cabai, wortel, ketela pohon, bunga tebu, janur, kelapa, bahkan jantung pisang, menciptakan perpaduan yang tidak hanya estetik namun juga sarat makna budaya dan keberagaman sumber daya lokal.
Sekitar 30 gunungan dari berbagai RT turut ambil bagian dalam karnaval tersebut, menjadikannya sebuah perayaan yang kolosal dan menggambarkan semangat gotong royong yang masih sangat hidup di tengah masyarakat.
Warga yang menonton tampak terhibur dan tak sedikit yang mengabadikan momen tersebut melalui kamera ponsel mereka.
Ahmad Zaini, salah satu ketua RT yang turut mengoordinasi pembuatan gunungan, menjelaskan bahwa bentuk dan bahan yang digunakan pada dasarnya disesuaikan dengan hasil bumi yang tersedia secara melimpah di lingkungan sekitar.
“Kami memang sengaja memilih jantung pisang sebagai puncak gunungan, dipadukan dengan padi, ketela, dan jagung yang memang mudah tumbuh di Tambahmulyo.
Prinsipnya adalah memanfaatkan yang ada secara maksimal, sehingga tetap murah namun menarik,” ungkapnya.
Sementara itu, pujian juga datang dari pengunjung luar desa, salah satunya Dina Damayanti asal Desa Karangrowo, yang secara khusus datang untuk menyaksikan karnaval tersebut.
Ia mengaku sangat terkesan dengan tampilan gunungan yang menurutnya sangat kreatif dan penuh nilai seni. “Gunungannya keren banget.
Ada yang menyusun sayuran menjadi tokoh wayang dengan sangat rapi, ada juga bentuk naga dengan kepala dari ketela pohon dan badan dari kacang panjang yang dihiasi tomat semua sangat detail dan niat.
Kalau bisa dikembangkan terus, ini bisa jadi tren budaya baru yang menarik,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Tambahmulyo, Eka Kurnia Sejati, yang ikut dalam arak-arakan dengan mengenakan pakaian adat dan mengelilingi desa bersama perangkat desa menggunakan jeep, tidak dapat menyembunyikan rasa harunya.
Ia mengungkapkan bahwa meskipun acara ini baru kali kedua digelar, namun semangat dan kekompakan warga semakin terasa kuat. “Saya benar-benar terharu melihat bagaimana warga bersatu, berkreasi, dan menunjukkan wajah asli Desa Tambahmulyo bukan seperti yang selama ini mungkin dikira orang luar.
Di sinilah terlihat bahwa kami adalah masyarakat yang guyub, rukun, damai, dan sangat kreatif. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh warga yang sudah berpartisipasi dan menyukseskan acara ini.
Semoga seluruh usaha ini membawa berkah dan limpahan rejeki bagi kita semua,” pungkasnya.
Dengan semangat pelestarian budaya yang dibalut inovasi visual dari hasil bumi, kegiatan ini tidak hanya menjadi peristiwa lokal semata, melainkan bisa menjadi inspirasi nasional dalam memaknai kembali tradisi dengan sentuhan kreatif khas masyarakat desa.
"Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya lokal, tetapi juga wadah ekspresi kreatif warga desa," tutupnya. (Andre Faidhil Falah)
Editor : Mahendra Aditya