RADAR KUDUS - Wayang Topeng Soneyan dikenal sebagai kesenian sakral, hanya pentas setahun sekali saat momen sedekah bumi.
Kesenian yang disebut bagian dari warisan Kasunanan Surakarta ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.
Sanggar Waringin Tunggal, Dukuh Kedung panjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso itu dipenuhi ratusan orang sejak pagi menjelang siang.
Mereka antusias hendak menyaksikan pentas Wayang Topeng Kedung panjang Soneyan.
Menjelang siang itu, iringan alunan musik gamelan mulai terdengar merdu. Menandai pentas akan segera dimulai.
Satu per satu penari mulai keluar. Mereka mengenakan topeng dari kayu dengan desain dan bentuk yang khas. Pemakaiannya dengan cara digigit.
Wayang Topeng Soneyan hari itu memainkan lakon Among Tani.
Lakon tersebut mengandung makna rasa syukur atas hasil bumi yang diberikan Tuhan.
Pentas Wayang Topeng Soneyan ini dikenal sakral bagi warga desa setempat.
Konon kesenian ini sudah ada di Desa Soneyan sejak tahun 1896.
Disebutkan, topeng-topeng yang dikenakan para penari atau pelakonnya hanya keluar satu tahun sekali pada momen ritual sedekah bumi atau bersih desa.
Topeng-topeng itu diwariskan secara turun-temurun antargenerasi seniman.
Topeng Soneyan dimainkan setiap momen sedekah bumi. Di desa ini sedekah bumi digelar pada Sabtu Kliwon bulan Apit, bertepatan Sabtu (3/4).
Kesenian Wayang Topeng Kedung panjang Soneyan pada 2021 lalu diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kemdikbudristek dan UNESCO.
Dikutip dari laman Kemdikbud, kesenian wayang topeng pada tradisi sedekah bumi di Desa Soneyan dipercaya merepresentasikan kehidupan agraris, wujud rasa syukur terhadap Tuhan atas berkah dan melimpahnya hasil bumi.
Selain itu juga sebagai wujud rasa hormat terhadap leluhur, karena dipercaya jika saat sedekah bumi tidak melakukan pertunjukan wayang topeng, maka akan terjadi pagebluk atau wabah penyakit.
Maka, pertunjukan wayang topeng pada saat sedekah bumi di Desa Soneyan juga diyakini sebagai ritual tolak bala.
Kepala Desa Soneyan, Margi Siswanto, menyebut bahwa kesenian ini berasal dari Kasunanan Surakarta.
"Sejarahnya itu ratusan tahun lalu kesenian ini milik Kasunanan Surakarta. Senimannya hijrah ke Pantai Utara Jawa Tengah, yakni di Soneyan ini.
Mulai dari sana kemudian sedekah bumi dengan acara tarian wayang topeng terus berjalan hingga sekarang ini ," jelasnya.
Topeng-topengnya berjumlah 35. Masih asli peninggalan zaman dulu saat pertama kali dibuat dan dimainkan.
Hanya dikeluarkan setahun sekali. Dan ada ritual khusus yang dilakukan sebelum memakainya.
"Topengnya disajeni dulu setiap sebelum pentas," lanjutnya.
Untuk memainkan kesenian ini tidak bisa sembarangan.
Hanya warga setempat yang bisa memakai untuk mementaskannya.
Masyarakat setempat memercayai, jika yang memainkan bukan warga asli, pemain bakal kesulitan, bahkan tidak bisa sesuai dengan pertunjukan wayang topeng yang semestinya. Bahkan mitosnya bisa kesurupan.
Wisata
Namun, untuk keperluan pariwisata, pihak desa membuat replika topeng untuk melakukan pementasan di luar momen sedekah bumi.
Pada 15 Juli 2024 lalu, Desa Soneyan diresmikan sebagai Desa Wisata Kabupaten Pati.
"Desa kami sudah jadi desa wisata, pengunjung semakin banyak. Maka saya baru buat replika topeng yang pakai tali, pesan di Jogja, jumlahnya juga 35. Bisa dikeluarkan kapan pun dan bisa dicoba siapa saja," jelas Margi.
Lebih lanjut Margi mengaku senang karena kesenian asli desanya ini memiliki masa depan yang cerah. Regenerasi berjalan dengan baik.
"Regenerasi jalan dengan baik, boleh dibilang menggembirakan. Yang pentas hari ini kombinasi generasi tua dan muda, bahkan ada yang masih SMP. Saat di Jakarta beberapa waktu lalu, kami ada penilaian dari Kemdikbud Ristek, anak-anak SMP juga yang tampil, hanya dua yang generasi tua.
Hari ini juga dalang utamanya sakit, mendadak diganti, ini dalang (generasi) baru, langsung bisa," papar dia.
Sementara itu Muntarjo, salah seorang pemain Wayang Topeng Soneyan, mengisahkan bahwa dirinya sudah tampil membawakan kesenian legendaris ini sejak 1984. Saat debut, usianya baru 22 tahun.
"Kami tampil cuma setahun sekali. Ada ritual, sebelum nopeng kami sowan cikal bakal, pamit mau nopeng untuk sedekah bumi," ujar dia.
Menurut Muntarjo, ada kesulitan yang dialami pelakon atau penari dalam memainkan kesenian ini, terutama bagi generasi muda, yakni sinkronisasi gerakan penari dengan dialog atau narasi cerita yang diucapkan dalang.
Peran utama dalang memang menjadi salah satu ciri khas Wayang Topeng Soneyan. Dalang di sini membawakan semua unsur dialog penari sepanjang pertunjukan. (Achmad Ulil Albab)
Editor : Mahendra Aditya