PATI – Harapan akan geliat sektor pariwisata di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, harus pupus sementara waktu.
Tahun 2025 ini, dipastikan tidak ada satu pun pengembangan destinasi wisata yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati.
Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Pati, Endah Murwaningrum.
"Belum ada (pengembangan wisata). Yang ada hanya rehab di GOR Pesantenan," tegas Endah, saat dikonfirmasi belum lama ini.
Kondisi ini menjadi tamparan bagi daerah yang menyandang julukan Bumi Mina Tani, karena stagnasi pembangunan pariwisata berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi kreatif dan sektor pendukung lainnya seperti UMKM dan jasa.
Baca Juga: Lebaran Ketupat Kudus 2025 Siap Ramaikan Wisata Budaya: Tradisi Unik dan Mitos Jodoh!
Goa Wareh Gagal Jadi ‘Umbul Ponggok’-nya Pati
Salah satu destinasi yang sempat diajukan untuk dikembangkan adalah Goa Wareh di Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo.
Kawasan wisata alam ini punya potensi besar, apalagi dengan kolam alami yang sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi warga lokal maupun wisatawan dari luar daerah.
Karsijan, pengelola Wisata Goa Wareh, mengungkapkan pihaknya sudah sejak lama mengusulkan konsep pengembangan berbasis wisata air.
Rencananya, kolam yang ada akan diperlebar hingga lima meter dan dilengkapi berbagai properti foto bawah air seperti sepeda, batu hitam, dan objek menarik lainnya.
“Sudah kami usulkan di Pemkab Pati ada pelebaran kolam renang anak-anak. Konsepnya seperti Umbul Ponggok di Klaten. Bisa foto-foto di bawah air,” jelasnya.
Karsijan menambahkan, konsep foto bawah air ini diyakini bisa menjadi daya tarik baru yang menjanjikan.
Selain memberikan pengalaman unik bagi pengunjung, ide tersebut juga bisa membuka peluang usaha seperti jasa foto berbayar dan sewa properti underwater.
Namun sayang, usulan itu tak kunjung direalisasikan. Tahun ini, pengembangan Goa Wareh kembali batal.
Padahal, destinasi ini kerap menjadi pilihan warga untuk berlibur atau sekadar melepas penat di alam terbuka.
DPRD Soroti Serius Stagnasi Wisata
Kondisi stagnan ini menjadi perhatian khusus dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pati.
Wakil Ketua I DPRD Pati, Hardi, menyatakan bahwa seharusnya sektor wisata tidak diabaikan karena memiliki potensi besar yang belum tergarap maksimal.
“Wisata di Pati akan lebih kuat bila berbasis budaya dan alam. Ini bukan hanya soal menarik wisatawan, tapi juga bagian dari upaya kita menjaga dan melestarikan warisan lokal yang berharga,” ujar Hardi.
Menurutnya, pengembangan sektor pariwisata secara serius dapat memberikan dampak signifikan pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dana tersebut nantinya bisa dialokasikan kembali untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik.
“Kalau kita serius membenahi dan mengembangkan wisata, dampaknya sangat besar.
PAD akan naik, dan itu bisa digunakan untuk kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani Merekomendasikan Wisata Air Ini untuk Liburan Lebaran bagi Pemudik Jawa Tengah
UMKM Juga Kena Dampak
Tak hanya dari sisi pariwisata, stagnasi pembangunan destinasi juga berpengaruh besar terhadap sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggantungkan pemasukan dari kunjungan wisata.
Di berbagai titik wisata Pati, mulai dari pegunungan, kolam renang alami, hingga wisata religi, keberadaan pedagang kecil, jasa kuliner, dan produk kerajinan lokal sangat bergantung pada aktivitas wisatawan.
“Pengembangan wisata juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, terutama bagi pelaku UMKM.
Ini sejalan dengan upaya kami dalam mendorong sektor ekonomi rakyat agar terus bergerak dan tumbuh,” jelas Hardi.
Masa Depan Wisata Pati Masih Tanda Tanya
Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan Pemkab Pati akan kembali menganggarkan pembangunan atau pengembangan kawasan wisata.
Padahal, berdasarkan data BPS Kabupaten Pati, kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD terus meningkat dalam lima tahun terakhir sebelum pandemi COVID-19, meskipun sempat terpuruk di masa PSBB.
Jika stagnasi ini terus berlangsung, maka bisa jadi momentum kebangkitan wisata pascapandemi akan terlewat begitu saja.
Pemerintah daerah pun diharapkan mulai berpikir strategis dan jangka panjang dalam merancang arah pengembangan wisata yang terukur dan berkelanjutan.
Masyarakat dan pelaku wisata pun kini hanya bisa berharap, agar janji-janji pengembangan destinasi yang sudah lama digadang-gadang seperti Goa Wareh tidak sekadar menjadi wacana.
Karena sesungguhnya, di balik potensi yang belum tergarap itu, tersimpan peluang besar untuk mengangkat nama Pati di kancah pariwisata Jawa Tengah. (adr)
Editor : Mahendra Aditya