PATI - Kelapa kopyor masih tinggi peminatnya. Permintaannya pun masih sangat banyak.
Utamanya untuk menyuplai permintaan dari luar kota. Khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta.
Karena itu pengembangan budi daya kelapa kopyor sangat penting. Kelapa kopyor sendiri tidak mengenal musim.
Kelapa kopyor terus berbuah sepanjang tahun. Meskipun ada masa-masa di mana buahnya tidak terlalu banyak.
Kelapa kopyor memiliki nilai ekonomi yang tinggi harga satu butirnya saja Rp 40 ribu.
Kalau punya 10 pohon saja bayangkan hasilnya, terang Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pati Nikentri Meiningrum.
Kelapa kopyor memang banyak dipesan dan dibawa ke luar daerah. Stoknya masih terbatas. Banyak dibawa ke luar daerah penjualannya.
Kadang kita nyari di Pati sendiri susah. Banyak dibawa ke luar daerah, imbuhnya.
Karena itu dengan adanya pengembangan kelapa kopyor melalui kultur embrio ini dapat meningkatkan produktivitas.
Karena berpotensi hasilnya 90 - 100 persen bisa menjadi kelapa kopyor semua.
Diketahui kelapa kopyor dengan benih konvensional rata-rata hanya menghasilkan 20 persen saja.
Salah satu petani kelapa kopyor, Tulus Sanyoto mengungkapkan budidaya kelapa kopyor masih sangat menjanjikan.
Hal itu karena permintaannya yang cukup tinggi. Utamanya dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya, dan Semarang.
“Saat ini harganya juga tinggi naik Rp 10 ribu. Karena kemarin kemarau panjang terjadi kelangkaan buah kelapa kopyor. Ukuran tanggung Rp 40 ribu yang besar sampai Rp 60 ribu,” terang pengelola Omah Kopyor di Desa Ngagel Kecamatan Dukuhseti ini.
Karena itu Tulus cukup senang dengan kehadiran kultur embrio sebagai pengembangan kelapa kopyor di Pati.
Hal ini akan menjaga Kabupaten Pati sebagai daerah sentra kelapa kopyor di Indonesia.
“Memang dari awal kami mengajukan kalau Pati tidak memiliki kultur embrio, otomatis kedepan kelapa kopyor Pati ini akan hilang. Kultur embrio ini bagus karena 98 persen hasilnya akan kopyor. Tentu ini akan sangat menguntungkan bagi petani,” terang Bendahara Asosiasi Petani Kelapa Indonesia ini.
Dengan adanya inovasi kultur embrio ini akan meningkatkan produktivitas kelapa kopyor sehingga diharapkan dapat memenuhi permintaan pasar yang tinggi.
“Namun masyarakat juga khawatir, karena masih banyak serangan hama wawung yang dapat mematikan kelapa kopyor. Harga kultur embrio ini kan antara Rp 1,3 – 1,5 juta jadi khawatir juga kalau terserang hama, meskipun secara nilai ekonomi kultur embrio ini sangat menguntungkan,” pungkasnya. (aua/war)
Editor : Ali Mustofa