RADAR KUDUS – Permintaan kelapa kopyor dari luar kota masih sangat tinggi. Namun stoknya langka akibat kemarau panjang. Hal ini membuat harga kelapa kopyor melonjak.
“Kemarin ada kemarau panjang pohon kelapa tidak banyak disiram, akibatnya terjadi kelangkaan buah sudah 4 bulan lalu.
Terus kemudian permintaan tinggi harganya jadi naik 10 ribu,” ungkap salah seorang petani kelapa kopyor asal Desa Ngagel Kecamatan Dukuhseti Tulus Sanyoto kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Diketahui kalau musim kemarau pohon kelapa paling tidak harus disiram seminggu sekali, kalau tidak bunganya akan rontok.
Saat ini, lanjut Tulus, harga kelapa kopyor untuk ukuran tanggung sekitar Rp 40 ribu dari pengepul, dan ukuran besar Rp 60 ribu.
Harga tersebut menurutnya lebih tinggi dari kenaikan harga kelapa kopyor pada tahun lalu.
“Ya permintaan tinggi, tapi suplai alam terbatas. Kualitas juga turun yang seharusnya belum panen dipanen dulu, daging buahnya tidak penuh. Banyak terjadi demikian,” lanjutnya.
Per hari saat ini hanya bisa mengirim sekitar 15 butir kelapa kopyor saja. Padahal pada hari-hari biasa bisa sampai 300 butir kelapa setiap minggunya.
“Sekarang saya jarang kirim karena buahnya tidak ada, kalau permintaan banyak sekali dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali dan Semarang.
Ya memang kelapa kopyor Pati ini banyak dicari terus karena rasanya yang lebih enak dibanding yang lainnya katanya begitu,” lanjut Tulus.
Diketahui permintaan pasar terhadap komoditas unggulan Kabupaten Pati ini sangat tinggi.
Namun ketersediaannya yang belum memenuhi. Di satu sisi para petani kelapa kopyor masih banyak yang kelabakan dalam mengatasi hama wawung yang membunuh pohon kelapa.
Saat ini sentra penghasil kelapa kopyor terbesar ada di Kecamatan Dukuhseti, ditopang dari wilayah Tayu dan Cluwak. (aua)
Editor : Mahendra Aditya