Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Duh...Gas Melon di Pati Langka dan Mahal, Pelaku UMKM Terpaksa Gunakan Kayu Bakar untuk Masak

Andre Faidhil Falah • Sabtu, 8 Februari 2025 | 17:06 WIB

 

DIMASAK: Warga Kayen, Rastutik memasak keripik menggunakan bahan bakar kayu di kediamannya.
DIMASAK: Warga Kayen, Rastutik memasak keripik menggunakan bahan bakar kayu di kediamannya.

 

PATI – Seorang pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memproduksi dagangannya. Hal itu dikarenakan gas melon atau gas 3 kilogram (kg) langka dan mahal.

Meskipun pengecer diizinkan untuk kembali menjual gas elpiji 3 kilogram, namun hingga kini gas subsidi tersebut masih sulit ditemukan di berbagai daerah. Hal itu membuat pelaku usaha memikirkan cara alternatif untuk tetap berproduksi.

Salah satu pelaku UMKM Restutik misanya. Ia mulai mengambil beberapa batang kayu di belakang rumahnya.

Warga Desa/Kecamatan Kayen itu mulai menggunakan cara tradisional. Memasak dengan kayu bakar.

Di wilayah Kayen masyarakat masih kesulitan mendapatkan gas melon. Akibat kelangkaan ini, sebagian warga terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memasak.

Pengusaha keripik tempe itu harus beralih ke kayu bakar. Tujuannya agar produksi usahanya tetap berjalan.

”Sudah sekitar seminggu gas sulit didapat. Supaya stok keripik saya tetap terjaga. Saya terpaksa memakai kayu bakar,” ujarnya.

Biasanya, dalam sehari ia menghabiskan dua hingga tiga tabung gas elpiji 3 kg untuk menggoreng keripik tempe. Namun, karena kelangkaan gas, ia kini harus mencari alternatif lain.

Ia mengungkapkan, mendapatkan gas melon kini memakan waktu lebih lama.

Bahkan bisa mencapai tiga hari. Tak jarang, ia harus mencari gas hingga ke luar desa, seperti ke Kecamatan Tambakromo dan Sukolilo.

Harga gas elpiji 3 kilogram di tingkat pengecer juga bervariasi, berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per tabung.

”Kadang bisa dapat harga Rp 20 ribu, tapi bisa juga Rp 23 ribu, bahkan yang paling mahal Rp 25 ribu,” katanya.

Restutik berharap kondisi ini segera membaik agar suplai gas kembali normal.

Dengan ketersediaan gas yang lancar, para pelaku usaha dapat kembali berproduksi dengan stabil, sehingga ekonomi masyarakat pun bisa kembali meningkat. (adr/him)

 

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#umkm #pati #gas melon langka #pemkab pati