Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pelaku UMKM di Kayen, Pati Terpaksa Pakai Kayu Bakar Alasannya Gas Melon Makin Langka dan Mahal

Andre Faidhil Falah • Sabtu, 8 Februari 2025 | 00:36 WIB
DIMASAK: Warga Kayen, Rastutik memasak keripik menggunakan bahan bakar kayu di kediamannya kemarin.
DIMASAK: Warga Kayen, Rastutik memasak keripik menggunakan bahan bakar kayu di kediamannya kemarin.

PATI – Kelangkaan dan mahalnya harga gas elpiji 3 kilogram (gas melon) semakin memukul pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Beberapa di antaranya terpaksa kembali ke metode tradisional, seperti memasak menggunakan kayu bakar, demi mempertahankan produksi.

Salah satunya adalah Restutik, warga Desa/Kecamatan Kayen, yang sehari-hari memproduksi keripik tempe.

Biasanya, ia mengandalkan gas melon untuk menggoreng produknya.

Namun, karena kelangkaan yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir, ia tak punya pilihan selain mencari kayu bakar di sekitar rumahnya untuk tetap bisa memasak.

Kelangkaan Berlangsung Berhari-hari

Menurut Restutik, mendapatkan gas elpiji 3 kilogram kini menjadi tantangan besar.

Ia bahkan harus mencari hingga ke kecamatan lain, seperti Tambakromo dan Sukolilo, demi mendapatkan satu atau dua tabung gas melon. Sayangnya, tak selalu beruntung.

“Sudah sekitar seminggu gas sulit didapat. Supaya stok keripik saya tetap terjaga, saya terpaksa memakai kayu bakar,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam sehari ia bisa menghabiskan dua hingga tiga tabung gas elpiji 3 kilogram untuk memproduksi keripiknya.

Namun kini, ia harus mengurangi jumlah produksi karena keterbatasan bahan bakar.

Harga Gas Melon Meroket

Selain langka, harga gas melon juga semakin tidak terkendali. Di tingkat pengecer, harga bervariasi antara Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per tabung, jauh lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

“Kadang bisa dapat harga Rp 20 ribu, tapi bisa juga Rp 23 ribu. Bahkan, yang paling mahal sampai Rp 25 ribu per tabung,” kata Restutik.

Dengan harga setinggi itu, ia harus berhitung ulang biaya produksi agar tetap bisa menjual produknya dengan harga yang tidak memberatkan pelanggan.

Jika situasi ini terus berlanjut, ia khawatir usahanya akan semakin terpuruk.

Dampak ke Pelaku Usaha Kecil

Kelangkaan gas melon bukan hanya dirasakan oleh pelaku usaha makanan seperti Restutik.

Banyak warung makan, pedagang gorengan, hingga ibu rumah tangga yang juga kesulitan mendapatkan gas bersubsidi tersebut.

Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada gas 3 kilogram.

Banyak pelaku UMKM berharap pemerintah segera turun tangan untuk menormalkan distribusi gas elpiji 3 kilogram.

Mereka juga meminta pengawasan lebih ketat terhadap rantai distribusi agar tidak ada oknum yang menimbun atau mempermainkan harga di pasar.

“Kami berharap kondisi ini segera membaik agar suplai gas kembali normal. Kalau seperti ini terus, usaha kecil seperti kami yang paling kena dampaknya,” harap Restutik.

Dengan situasi yang belum menentu, para pelaku UMKM harus tetap bertahan dan mencari solusi kreatif agar usaha mereka bisa tetap berjalan.

Namun, tanpa adanya kebijakan yang lebih tegas dari pemerintah, kelangkaan gas melon berpotensi terus berulang dan semakin menyulitkan masyarakat kecil.(adr)

Editor : Mahendra Aditya
#Kayen #pati #pelaku umkm #elpiji 3 kilogram #gas lpg 3 kg