Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Wow Harga Gas Melon Meroket di Pati, Warga Mengeluh Kelangkaan

Andre Faidhil Falah • Selasa, 4 Februari 2025 | 00:15 WIB
DICEK: Petugas mengambil gas melon di salah satu agen di Pati belum lama ini.
DICEK: Petugas mengambil gas melon di salah satu agen di Pati belum lama ini.

Pati – Sejumlah warga, terutama para ibu rumah tangga, mengeluhkan lonjakan harga gas LPG 3 kg atau yang sering disebut gas melon.

Selain harganya yang melambung, ketersediaannya pun semakin sulit ditemukan di pasaran.

Yatun, seorang warga Pati, mengaku baru saja membeli gas melon di warung kelontong dengan harga Rp 25.000 per tabung, padahal sebelumnya ia biasa mendapatkannya seharga Rp 20.000.

"Biasanya Rp 20.000, tapi tiba-tiba naik jadi Rp 25.000. Kata pedagangnya, gas sedang sulit didapat," ungkapnya.

Bagi Yatun, kenaikan harga mungkin masih bisa diterima, tetapi kelangkaan gas yang semakin menjadi-jadi membuatnya kesal.

Sebagai kebutuhan pokok untuk memasak, gas LPG menjadi barang yang harus selalu tersedia.

Tak sedikit warga yang kini memilih memiliki dua tabung sebagai cadangan agar tidak kehabisan gas saat stoknya sulit didapat.

"Kalau mau dapat gas, harus inden dulu. Tabung dan KTP dikumpulkan ke toko agen, baru seminggu kemudian bisa ambil gasnya," keluhnya.

Keluhan serupa juga diungkapkan oleh Eni, warga Gembong, yang dalam beberapa pekan terakhir kesulitan mendapatkan gas LPG 3 kg.

Ia biasanya membeli gas di toko langganannya, namun belakangan ini stok di tempat tersebut sering kosong.

"Saya tanya ke toko langganan, tapi belum ada stok. Memang agak sulit beberapa pekan ini," ujarnya.

Namun, berbeda dengan keluhan warga, data dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Pati menunjukkan bahwa stok gas LPG 3 kg sebenarnya masih aman.

Kepala Disdagperin, Hadi Santosa, memastikan bahwa pasokan gas tahun ini mencapai 38.505 metrik ton atau setara dengan 12.835.000 tabung.

"Stok aman," tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa kuota distribusi gas LPG di Kabupaten Pati telah diperhitungkan setiap tahun berdasarkan jumlah penduduk serta kelompok yang berhak menerima subsidi.

Jika masih ada warga yang mengalami kesulitan mendapatkan gas, menurutnya, kemungkinan besar disebabkan oleh jumlah pangkalan yang masih terbatas di beberapa wilayah.

"Misalnya di daerah Tlogowungu bagian atas, seperti Desa Lahar ke atas, pangkalannya sangat sedikit. Jadi warga harus turun ke bawah untuk mendapatkan LPG. Tapi kalau di Pati Kota, stok masih cukup," jelasnya.

Lebih lanjut, Hadi memastikan bahwa distribusi gas melon dari Pertamina berjalan lancar dan tanpa kendala.

Meski demikian, perbedaan akses distribusi antarwilayah masih menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat.

Dengan kondisi ini, warga berharap pemerintah daerah dapat melakukan pengawasan lebih ketat terhadap distribusi gas LPG 3 kg agar tidak terjadi penimbunan atau permainan harga di tingkat pengecer.

Selain itu, pemerataan jumlah pangkalan gas di seluruh wilayah juga diperlukan agar akses masyarakat terhadap gas bersubsidi lebih mudah dan merata.(adr)

Editor : Mahendra Aditya
#gas melon #pati #elpiji #gas LPG 3 kg langka #gas lpg 3 kg