PATI – Keberadaan hutan mangrove di pesisir Desa Tluwuk, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati memberikan banyak manfaat. Terutama bagi masyarakat sekitar. Hal itu sudah dirasakan saat ini.
"Hutan mangrove di sini telah lama dikonservasi secara konsisten. Setiap kali muncul tanah timbul, langsung ditanami mangrove sehingga luasnya terus bertambah," jelas Ketua Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Pati Sukarno.
Saat ini, luas hutan mangrove di pesisir Tluwuk telah mencapai 25 hektare. Kawasan ini juga semakin populer sebagai destinasi wisata edukasi.
Hal ini karena desa tersebut juga telah ditetapkan sebagai salah satu desa wisata di Kota Mina Tani ini.
Beragam jenis mangrove tumbuh di Pantai Tluwuk, seperti Avicennia marina, Rhizophora mucronata, dan Bruguiera.
Seiring berjalannya waktu, spesies yang ada semakin bertambah, termasuk Rhizophora stylosa yang baru ditanam.
Pengelolaan hutan mangrove di Pantai Tluwuk dilakukan oleh Kelompok Kerja Mangrove Desa bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat.
Mereka aktif bekerja sama dengan berbagai pihak dalam upaya perawatan dan penanaman mangrove.
"Setiap tahun, kegiatan penanaman dilakukan dua hingga tiga kali. Beberapa waktu lalu, Kelompok Penghijauan Tluwuk berkolaborasi dengan organisasi mahasiswa untuk menanam 500 bibit Bruguiera dan 2.000 Rhizophora stylosa. Kegiatan ini juga melibatkan ratusan pelajar. Sering setiap tahun pasti ada kegiatan tanam mangrove di sini," jelasnya.
Lebih lanjut Sukarno menjelaskan, bahwa keberadaan hutan mangrove sangat bermanfaat bagi lingkungan pantai karena berperan sebagai benteng alami terhadap abrasi.
Selain menjaga ekosistem laut dan pantai, hutan mangrove juga memberikan dampak ekonomi bagi nelayan dan masyarakat sekitar.
Menurutnya, mangrove mampu menyerap polutan dari air laut yang berasal dari aliran sungai, sehingga kualitas air menjadi lebih baik.
Hal ini berdampak positif terhadap budidaya ikan dan petambak garam, karena air baku yang digunakan lebih bersih.
Selain itu, hutan mangrove juga berperan sebagai tempat pemijahan (spawning ground) bagi berbagai biota laut seperti ikan, kepiting, udang, dan moluska.
Di sisi lain akresi atau tanah timbul di wilayah pantai Desa Tluwuk, Kecamatan Wedarijaksa tersebut, setiap tahunnya sekitar 0,2 hektare (2.000 meter persegi). Tanah timbul ini selalu digarap dengan penanaman mangrove sehingga luasan kawasan mangrove semakin banyak. (aua/him)
Editor : Noor Syafaatul Udhma