Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ratusan Ekor Sapi Terpapar PMK di Pati Terpaksa Dipotong, Ini Tujuannya

Andre Faidhil Falah • Sabtu, 11 Januari 2025 | 17:02 WIB
Photo
Photo

PATI - Sebanyak 194 ternak dengan gejala PMK di Kabupaten Pati terpaksa dipotong.

Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas dan meminimalkan kerugian bagi warga maupun peternak.

Terlebih, hingga saat ini sudah ada 108 ekor sapi yang mati akibat PMK. 

“Daripada rugi karena mati, lebih baik kami potong terlebih dahulu,” kata Parmin (50), warga Tambakromo, Kabupaten Pati. 

Hal serupa dilakukan oleh Slamet (45), peternak asal Jakenan, Pati.

Ia juga memutuskan untuk memotong paksa ternaknya guna mencegah penularan PMK sekaligus mengurangi potensi kerugian.

Sementara itu, ternak yang sudah mati akibat penyakit tersebut dibakar dan dikuburkan untuk menghindari penyebaran virus lebih lanjut.

Hingga awal Januari, tercatat 889 kasus sapi terinfeksi PMK. Dari jumlah tersebut, 108 ekor sapi dilaporkan mati, 194 ekor dipotong paksa, dan 562 ekor masih sakit, sementara hanya 25 ekor yang dinyatakan sembuh. 

Dia menambahkan, sapi-sapi yang terjangkit dan mati ini kebanyakan didatangkan dari luar daerah.

Sapi luar daerah ini tidak terdeteksi terjangkit PMK maupun LSD sehingga menulari sapi lainnya.

”Ini disebabkan karena banyak gejala yang tidak ditandai dengan nampak. Kebetulan yang kena sapi yang tidak divaksin. Kebanyakan hewan ternak itu dari luar daerah (Blora dan Purwodadi),” bebernya.

Menurut Andi, meskipun hewan yang telah divaksin tetap berpotensi terinfeksi PMK atau LSD, vaksinasi dapat mengurangi tingkat kematian dan mempercepat proses penyembuhan ternak. 

Meluasnya wabah ini tidak hanya menimbulkan kerugian finansial bagi peternak, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi sektor peternakan di Kabupaten Pati.

Pemerintah daerah diharapkan mempercepat langkah-langkah penanganan agar wabah dapat segera terkendali. 

Halim, seorang pedagang sapi dari Desa Klecorenggonang, Kecamatan Winong, mengaku usahanya sangat terdampak akibat wabah ini.

“Di kandang saya sekarang hanya tersisa 20 ekor sapi. Sebelum PMK mewabah, biasanya ada sekitar 200 ekor sapi lokal di kandang,” ujarnya. 

Sementara itu, Santoso, seorang peternak dari Desa Kebowan, Kecamatan Winong, menekankan pentingnya upaya aktif dalam melawan penyebaran penyakit.

Ia rutin menyemprot kandang dengan disinfektan, serta memberikan antibiotik dan vitamin kepada ternaknya. 

Vaksinasi adalah kunci utama untuk melindungi ternak dari ancaman virus PMK.

"Saya berharap pemerintah dapat menyediakan vaksin ulangan untuk memperkuat kekebalan ternak. Jangan sampai kerugian besar yang pernah kami alami terulang kembali,” tegasnya. 

Dengan kolaborasi antara pemerintah, peternak, dan masyarakat, diharapkan wabah ini dapat segera terkendali dan sektor peternakan di Kabupaten Pati kembali pulih. (adr)

Editor : Ali Mustofa
#vaksinasi #peternakan #pati #sapi #Wabah PMK #peternak #ternak #pedagang