PATI - Kondisi air di Waduk Gembong masih surut. Hal ini karena sistem buka tutup pintu air masih diberlakukan.
Akhir pekan lalu, dasar dari waduk itu terlihat. Beberapa warga setempat terlihat berada di sana.
Bahkan ada pengguna sepeda motor yang lalu lalang. Foto-foto.
Namun, jika hujan tidak turun dalam waktu dekat, debit air Waduk Gembong diperkirakan akan terus berkurang.
Saat ini, kondisi waduk mengering. Bahkan rerumputan mulai tumbuh di areanya.
Agus, warga setempat mengatakan, kondisi waduk ini sudah beberapa bulan lalu.
Ia tak mengetahui secara pasti penyebabnya.
”Sepertinya sejak Agustus lalu sudah surut. Mungkin penyebabnya kekeringan,” katanya.
Dia menambahkan, beberapa warga sering berada di dasar waduk hanya untuk sekadar foto-foto. Karena kondisi benar-benar surut jarang terjadi.
”Jarang kan waduk itu surut. Tapi katanya warga, surutnya itu karena pintu waduk dibuka tutup,” imbuhnya.
Sementara itu, berdasarkan keterangan pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Pati, di sana diberlakukan sistem buka tutup pintu air.
Tujuannya agar distribusi air tetap merata ke berbagai wilayah.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Pati Sudarno menjelaskan, sistem buka tutup pintu air telah diatur berdasarkan jadwal.
Penyesuaian dilakukan sesuai kebutuhan air di wilayah masing-masing.
”Dengan adanya jadwal ini, diharapkan masyarakat dapat mengatur penggunaan air secara efisien,” ujar Sudarno.
Kata Darno, sebelumnya surutnya waduk ini karena dampak dari kekeringan. Selain dibuka untuk kebutuhan air, waktu itu curah hujan jarang. Sehingga waduk surut.
”Waduk menyusut karena dampak musim kemarau panjang. Hujan yang belum turun menyebabkan debit air berkurang drastis,” jelasnya.
Sudarno mengungkapkan, Waduk Gembong berfungsi mengairi lahan pertanian di lima kecamatan.
Yakni Kecamatan Gembong, Margorejo, Pati, serta sebagian wilayah Tlogowungu dan Wedarijaksa.
Lahan pertanian yang bergantung pada irigasi dari waduk dipastikan terdampak akibat keterbatasan pasokan air.
”Pertanian yang mengandalkan irigasi dari waduk pasti terkena dampaknya. Ada lahan tadah hujan dan lahan yang sepenuhnya mengandalkan irigasi. Semuanya merasakan dampak ini,” tuturnya. (adr/war)
Editor : Ali Mustofa