Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Potensi Ancaman Serius, Sejarah Pati Thrust Yang Pernah Luluh Lantakkan Pati, Rembang, dan Blora

Zakarias Fariury • Selasa, 3 September 2024 | 20:01 WIB
WASPADA: Pati Thrust membayangi Jawa Bagian Utara, pasalnya sesar gempa di wilayah Pati, Jawa Tengah setiap tahun bergerak. Berpotensi menimbulkan gempa dahsyat. (BMKG)
WASPADA: Pati Thrust membayangi Jawa Bagian Utara, pasalnya sesar gempa di wilayah Pati, Jawa Tengah setiap tahun bergerak. Berpotensi menimbulkan gempa dahsyat. (BMKG)

RADAR KUDUS - Wilayah Jawa Tengah, khususnya daerah Rembang, Pati, dan Blora, berada di bawah bayang-bayang ancaman gempa bumi besar yang disebabkan oleh Sesar Naik Pati, atau yang dikenal sebagai Pati Thrust.

Sesar aktif ini memiliki potensi untuk memicu gempa berkekuatan hingga 6,5 magnitudo atau lebih, menjadikannya salah satu ancaman geologis paling signifikan di kawasan tersebut.

Sejarah telah mencatat beberapa gempa besar yang diakibatkan oleh aktivitas Pati Thrust.

Pada tahun 1836, sebuah gempa dengan skala intensitas VII MMI mengguncang daerah Rembang hingga Tuban, menyebabkan kerusakan yang sangat signifikan.

Tidak hanya sekali, pada tahun 1847, gempa merusak kembali melanda daerah Lasem dan sekitarnya, menegaskan betapa aktifnya sesar ini dalam memicu bencana.

Namun, salah satu kejadian paling dahsyat yang tercatat adalah gempa pada tahun 1890, ketika Pati diguncang gempa berkekuatan 6,8 magnitudo.

Gempa dangkal ini mengakibatkan guncangan yang sangat kuat, dengan skala intensitas VI-VII MMI, menyebabkan kerusakan parah di wilayah tersebut dengan radius kerusakan mencapai sekitar 500 km.

Peristiwa ini menjadi pengingat betapa besar ancaman yang ditimbulkan oleh Sesar Naik Pati.

Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas Pati Thrust kembali menjadi sorotan. Pada Desember 2019, tercatat terjadi tiga kali gempa dalam kurun waktu satu bulan.

Gempa pertama terjadi pada 18 Desember 2019 dengan magnitudo 2,9, disusul oleh gempa kedua dengan magnitudo 2,7 pada hari yang sama, dan gempa ketiga pada 25 Desember 2019 dengan magnitudo 3,6.

Aktivitas ini menunjukkan bahwa Sesar Naik Pati masih aktif dan perlu mendapatkan perhatian serius.

Gempa terakhir yang tercatat pada 20 Maret 2024 dengan magnitudo 2,8 juga diduga kuat dipicu oleh aktivitas Sesar Naik Pati.

Daryono, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG dan kini menjadi Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, menegaskan bahwa gempa tersebut menjadi bukti keaktifan Pati Thrust.

Ia mengingatkan bahwa dengan memperhatikan sejarah gempa kuat yang pernah terjadi di wilayah ini, kewaspadaan harus terus ditingkatkan.

Peningkatan aktivitas tektonik di wilayah Pati-Blora menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan masyarakat.

Langkah-langkah mitigasi harus segera diimplementasikan untuk melindungi warga dari potensi ancaman gempa yang dapat menyebabkan kerusakan serius.

Di sisi lain, pemahaman akan tindakan mitigasi dan pembangunan infrastruktur yang tahan gempa juga sangat krusial untuk mengurangi risiko dan dampak bencana di masa depan.

Sesar Naik Pati dikenal sebagai patahan yang dapat diamati melalui kelurusan sinklin berarah barat daya – timur laut di sebagian besar wilayah Pati.

Pada tahun 2017, Pusat Studi Gempa Nasional mengkategorikan Pati Thrust sebagai salah satu sesar aktif di Jawa, menjadikannya fokus utama dalam upaya mitigasi bencana di daerah tersebut.

Sesar ini memiliki laju kecepatan geser sekitar 0,1 mm per tahun dan panjang patahan sekitar 69 km, menunjukkan potensi ancaman yang signifikan.

Diperkirakan bahwa gempa dengan magnitudo tertarget 6,5 dapat terjadi di masa depan, menjadikan kawasan ini sebagai daerah dengan risiko gempa yang tinggi.

Selain itu, Pati juga berada dalam zona kerentanan likuifaksi yang dikategorikan sebagai "sedang" jika terjadi guncangan gempa.

Meskipun tidak seberbahaya wilayah pesisir Selatan Jawa Tengah, Pati perlu diwaspadai karena pernah menjadi perairan laut dangkal atau selat, yang kemudian tertimbun oleh endapan alluvial muda.

Sesar Naik Pati tercatat tidak mengalami pergerakan signifikan dalam 133 tahun terakhir.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa gempa besar terakhir terjadi pada 12 Desember 1890 dengan intensitas VII-VIII MMI, yang menyebabkan kerusakan parah di wilayah Pati, Juwana, dan sekitarnya.

Banyak bangunan hancur, dan korban jiwa serta luka-luka tidak dapat dihindari.

Dengan pertumbuhan penduduk yang pesat di sekitar jalur sesar Pati, penting untuk memperhatikan mitigasi bencana dalam setiap pembangunan infrastruktur dan rumah tinggal.

Kesiapan masyarakat, pembangunan infrastruktur yang tahan gempa, serta pemahaman akan pentingnya mitigasi bencana menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan dampak dari ancaman gempa bumi di masa yang akan datang. (ury)

Editor : Abdul Rokhim
#apa itu pati thrust #lokasi pati thrust #gempa #kapan pati thrust #gempa hari ini #apa pati thrust #gempa bumi #Pati Thrust #penyebab pati thrust