RADAR KUDUS - Pantai utara Pulau Jawa menyimpan potensi ancaman yang kerap kali luput dari perhatian publik.
Selain Sesar Kendeng yang dikenal melintang dari selatan Semarang hingga ke Jawa Barat, wilayah ini juga dilintasi oleh Sesar Naik Pati, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pati Thrust.
Meski belum setenar Sesar Kendeng, Pati Thrust memiliki potensi yang tak kalah berbahaya dalam memicu gempa besar yang dapat mengguncang daerah-daerah mulai dari Semarang hingga ke arah timur laut, melintasi Blora, Lasem, Rembang, Tuban, hingga ke wilayah Jawa Timur.
Menurut Dr. Salahudin Husein, seorang dosen Teknik Geologi di Universitas Gajah Mada (UGM), Sesar Naik Pati berpotensi memicu gempa dengan kekuatan magnitudo mencapai 6,5.
"Sesar ini memiliki laju pergeseran sebesar 0,1 milimeter per tahun," ujar Salahudin, yang telah melakukan penelitian mendalam tentang keaktifan sesar ini.
Data yang digunakan untuk mengidentifikasi keaktifan Pati Thrust berasal dari berbagai sumber, termasuk catatan geologi, data kegempaan, serta pengukuran menggunakan Global Positioning System (GPS) yang diambil melalui satelit.
Baca Juga: Pemprov Jateng Keluarkan Surat Edaran, Imbau Masyarakat Siap Hadapi Ancaman Gempa Megathrust
Salahudin menjelaskan bahwa pola kelurusan yang memanjang dari selatan Semarang menuju timur laut, melewati daerah Lasem hingga Laut Jawa, mengindikasikan keaktifan Pati Thrust.
"Keberadaan pola ini menjadi tanda bahwa sesar tersebut masih aktif dan berpotensi menimbulkan gempa besar di masa mendatang," tambahnya.
Dalam sejarahnya, sesar ini tercatat telah memicu beberapa gempa besar yang menyebabkan kerusakan parah di wilayah pantai utara Jawa.
Salah satu peristiwa gempa besar yang diduga diakibatkan oleh Pati Thrust terjadi pada tahun 1836 di Rembang hingga Tuban, dengan skala intensitas VII MMI.
Tak lama berselang, pada tahun 1847, gempa besar kembali terjadi di Lasem dengan skala intensitas yang sama.
Baca Juga: Megathrust Semakin Mengancam! Pemprov Jateng Keluarkan Surat Edaran, Begini Isinya
Salahudin juga mencatat adanya gempa yang melanda wilayah Pati pada tahun 1890, dengan kekuatan magnitudo 6,8 Gempa ini menyebabkan kerusakan yang sangat parah dengan skala intensitas VI-VII MMI dan radius kerusakan mencapai sekitar 500 kilometer.
Selain itu, beberapa wilayah seperti Blora juga pernah merasakan dampak dari gempa yang diakibatkan oleh Sesar Naik Pati, meski dengan kekuatan yang lebih rendah.
Perbedaan utama antara gempa yang dipicu oleh Pati Thrust dan gempa Megathrust terletak pada mekanismenya.
Gempa Pati Thrust terjadi akibat sobekan di dalam lempeng yang bergerak secara perlahan setiap tahunnya.
Sementara itu, gempa Megathrust dihasilkan dari pergerakan lempeng tektonik di kerak bumi. "Meskipun kekuatan gempa yang dihasilkan oleh Sesar Naik Pati lebih kecil dibandingkan dengan gempa Megathrust, dampaknya tetap bisa merusak infrastruktur dan bangunan di sekitarnya," jelas Salahudin.
Meskipun kekuatan gempa dari Pati Thrust lebih kecil, potensi kerusakan yang ditimbulkannya tidak boleh diabaikan.
Wilayah yang dilintasi oleh sesar ini harus tetap waspada dan siap menghadapi kemungkinan terjadinya gempa di masa depan.
Persiapan yang matang dan upaya mitigasi bencana menjadi kunci dalam menghadapi ancaman tersembunyi yang ada di bawah permukaan pantai utara Jawa ini. (ury)
Editor : Noor Syafaatul Udhma