Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mitos Menggantung Ketupat Saat Lebaran di Pati, Untuk Arwah Keluarga yang Sudah Meninggal!

Dzikrina Abdillah • Jumat, 12 April 2024 | 19:26 WIB
Mitos menggantung ketupat di pintu, menjadi tradisi di Pati untuk arwah keluarga yang sudah meninggal.
Mitos menggantung ketupat di pintu, menjadi tradisi di Pati untuk arwah keluarga yang sudah meninggal.

PATI - Ketupat sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa, khususnya saat lebaran ketupat.

Selain itu, ketupat juga mengandung makna laku papat, yang mewakili empat sisi ketupat.

Empat sisi ini tidak hanya karena bentuknya yang segi empat, tetapi juga melambangkan nilai-nilai kebajikan dan kedermawanan.

Lebaran bermakna memberi limpahan kepada yang membutuhkan.

Sehingga ketupat juga menjadi simbol kedermawanan dalam membagi rezeki kepada sesama.

Jika biasanya ketupat disantap dan dibagikan kepada kerabat atau tetangga, ada satu lagi hal unik tradisi masyarakat Jawa tentang ketupat.

Yaitu, tradisi menggantungkan ketupat di belakang pintu rumah atau di belakang jendela.

Di zaman modern begini, hal-hal tradisional seperti menggantungkan ketupat di belakang pintu memang terdengar aneh dan tidak masuk akal.

Rupa-rupanya nih, tradisi ini sudah berlangsung secara turun temurun.

Dari cerita masyarakat Jawa, ketupat sengaja ditempatkan di belakang pintu rumah.

Hal ini ditujukan untuk para arwah keluarga yang sudah meninggal. 

Kepercayaan itu juga turut menjadi mitos yang dipercaya sebagian masyarakat di Pati.

Di Pati, tradisi menggantungkan kupat di belakang pintu rumah ini disandingkan dengan lepet.

Dengan menggantung ketupat di pintu, dipercaya arwah keluarga yang sudah meninggal akan datang ke rumah untuk mengambil sari dari ketupat.

Dan apabila terjadi ini tidak dilakukan, konon katanya arwahnya makan makanan sisa dari arwah lainnya.

Meski saat ini tradisi menggantung ketupat hanya dijadikan simbol oleh sebagian masyarakat di Pati, namun sebagian warga masih percaya dengan mitos tersebut.

Makna Ketupat dalam Tradisi Jawa

Terlepas dari berbagai mitos tentang ketupat, nyatanya ketupat memiliki makna mendalam dalam tradisi Jawa.

Menurut sejarawan Universitas Padjajaran Bandung Fadly Rahman, berdasarkan cerita rakyat, ketupat berasal dari abad ke-15 hingga ke-16 semasa hidup Sunan Kalijaga.

Ketupat merupakan wakil dari dua simbolisasi, yakni 'ngaku lepat' yang berarti mengakui kesalahan.

Dan 'laku papat' atau empat laku, yang mencerminkan wujud empat sisi ketupat.

Empat laku, atau sisi dari ketupat, tak hanya karena bentuknya yang segi empat, namun terdapat empat makna di dalamnya.

Pertama, lebaran dari kata dasar lebar, berarti pintu ampun yang dibuka lebar terhadap kesalahan orang lain.

Kedua, luberan dari kata dasar luber, yang berarti melimpah, artinya memberi limpahan sedegah pada orang yang membutuhkan.

Ketiga, lebaran dari kata dasar lebur, yang artinya melebur dosa yang telah dilalui selama satu tahun.

Keempat, leburan dari kata dasar kapur, yang artinya menghicikan, kembali putih layaknya bayi. Ketupat juga akulturasi dari budaya Hindu dan Islam.

Meskipun disebutkan secara rinci yang menuju pada ketupat, namun berdasarkan sumber tertulis dalam prasaktya yang diteriti orang asli.

Indikasi makanan beras yang dibuntu siur, sudah dilakukan sebelum masa pra-Islam.

Editor : Dzikrina Abdillah
#menggantung #keluarga #makna #pati #ketupat #pintu #lepat #Arwah #mitos