Cerita Asal Usul Tradisi Lamporan di Pati, Konon Dipercaya Masyarkat Sebagai Ritual Tolak Bala

Andre Faidhil Falah • Dipublikasikan Minggu, 24 Maret 2024 | 00:20 WIB
DIRAYAKAN: Masyarakat Desa Gunungsari, Tlogowungu mengadakan tradisi lamporan baru-baru ini.
DIRAYAKAN: Masyarakat Desa Gunungsari, Tlogowungu mengadakan tradisi lamporan baru-baru ini.

PATI - Di Kabupaten Pati ada tradisi lamporan tahunan peninggalan nenek moyang.

Tradisi Lamporan di Pati dipercaya sebagai tolak bala.

Tradisi Lamporan adalah salah satu ritual mengusir binatang buas pengganggu ternak di Desa Gunungsari, Tlogowungu.

Tradisi ini turun temurun dari nenek moyang mereka.

Mereka mengelilingi desa sejauh 2,6 kilometer. 

Hal itu diungkapkan Waharto, panitia acara tradisi Lamporan.

”Acara lamporan dari nenek moyang ini diadakan setiap tahun sekali. Tepatnya, malam jumat wage bulan syuro. Berlangsung selama sepekan. Acara teater, lapak bacak, menanam pohon, dan lainnya,” katanya.

Awal mulanya, acara ini hanya diikuti bagi warga yang mempunyai hewan ternak (utamanya sapi).

Namun, seiring berjalannya waktu semua warga mengikuti. 

Setelah tahun-tahun berlalu, tradisi ini tidak hanya sebagai sebuah ruwatan saja.

Bahkan, sekarang ini sudah menjadi sebuah tradisi yang menghibur.

Para pemuda desa setempat juga diajak untuk menjaga kerifan lokal tersebut.

Sehingga Lamporan dapat dikenal oleh masyarakat luas.

”Makanya, dalam perjalannya, sudah ada berbagai macam kesenian daerah yang juga ikut ditampilkan. Yang terpenting adalah kekompakan antarwarga. Tetap terjaga dan kegiatan gotong royong senantiasa terjalin dengan baik,” pungkasnya.

Kini hanya ada tiga desa yang melestarikan tradisi tersebut.

Yakni, Desa Gunungsari, Tlogowungu; Desa Sonean, Margoyoso; dan Desa Kedumuyo, Sukolilo.

”Mungkin ya ada, tapi menghilang. Saat ini yang masih melestarikan tiga desa itu,” terang salah satu pengamat sejarah Ragil Haryo.

Kini hanya beberapa desa saja yang melanjutkan tradisi Lamporan tersebut.

Dari pantauan Radar Kudus saat tradisi Lamporan tampak pandangan mata terpana di tengah gelap malam.

Terlihat sosok anggun di tengah gelap di jalan Desa Gunungsari, Tlogowungu, Pati.

Dua penari wanita berbaju hitam dengan selendang kuning muncul.

Mereka mengawali arak-arakan tradisi lamporan itu.

Keduanya tampak berada di garis depan.

Salah satu orang terlihat membawa obor yang panjangnya dua meteran dan terbuat dari bambu.

Kisaran 10 bambu diikiat dengan tujuh rotan agar menyatu dan an membakarnya dengan aspal. 

Baca Juga: Dua Perguruan Silat Di Margoyoso Pati Nyaris Jotosan Digagalkan Polisi, Begini Kronologinya!

Tak hanya itu, tabuhan alat musik menambah kesan khas pedesaan.

Kentongan dan alat musik yang terlihat seperti bedug terdengar beriringan. 

Tiga barongan pun berjalan terpisah.

Di depan, tengah, dan belakang iringan.

Ada yang putih, hitam, dan kuning warnanya.

Para muda-mudi juga orang tua ikut dalam iringan lamporan itu.

Beberapa dari mereka juga membawa obor.

Tapi tak sebesar obor yang khas.

Mungkin hanya setengah meter dan bentuknya seperti garpu yang terbakar di ketiga sisinya.

Tradisi lamporan sendiri pada intinya sebagai tolak bala.

Tiap desa punya cara sendiri-sendiri untuk mempraktikkan tradisi tersebut.

”Intinya tradisi lamporan itu ritual tolak bala. Tapi caranya yang berbeda-beda,” tuturnya.

Tradisi itu digelar setiap tahun.

Terutama ketika setiap Suronan untuk hitungan orang Jawa.

Tradisi ini bertujuan untuk juga berdoa agar diberikan keselamatan dan kelestarian bumi Pertiwi.

”Tradisi lamporan itu biasanya di bulan suro. Tiap tahun ada,” pungkasnya.

Editor : Dzikrina Abdillah
tolak bala obor pati barongan lamporan api nenek moyang tradisi