Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Cerita Kapoknya Petugas KPPS di Pati : Menghitung Suara Pencoblosan Dari Pagi Ketemu Pagi

Andre Faidhil Falah • Minggu, 18 Februari 2024 | 19:26 WIB
Illustrasi petugas KPPS.
Illustrasi petugas KPPS.


PATI - Momen pemilihan umum (pemilu) 2024 membuat anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) bekerja lembur hingga subuh.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus salah satu petugas KPPS di Pati terlihat mencorat-coret di selembaran kertas yang di tempel di semacam papan pengumuman.

Dari pagi hingga subuh mereka terus menghitung perolehan suara dari pencoblosan.

Para petugas KPPS bekerja ekstra di pelaksanaan pemungutan suara Pemilu 2024 ini.

Mereka harus rela lembur hingga subuh untuk menyelesaikan tugasnya.

Baca Juga: Duh! Dua Petugas KPPS di Margorejo dan Kayen Pati Keguguran, Ini Penyebabnya

Salah satu anggota KPPS di TPS 18 Kelurahan Pati Lor, Pati Kota, Budi Sayuti mengatakan, bersama rekannya mau tidak mau harus menahan kantuk untuk menjalankan tugas.

”Pemungutan suara mulai dari pukul 07.00 hingga 13.00 WIB. Selanjutnya, pukul 13.30 WIB kita melakukan penghitungan surat suara hingga pukul 21.50 WIB,” ujar dia.

Di TPS Kecamatan Winong, salah satu anggota KPPS juga mengeluhkan hal sama. Harus kerja ekstra.

”Capek pak, berangkat pagi pulangnya juga pagi,” paparnya.

Sementara itu, salah satu petugas PPS di Desa Pulorejo Nugroho, mengatakan semua KPPS di desanya lembur saat Pemilu 2024 ini.


Baca Juga: Simak! Berikut Prediksi 50 Nama-nama Penghuni Kursi Dewan Kabupaten Pati 2024-2029

Mereka menyelesaikan tugasnya paling cepat pada pukul 04.00 WIB. Ada juga yang selesai pada pukul 05.30 WIB.

”Paling cepat pukul 04.00 WIB. Paling akhir pukul 05.30 WIB. Kalau PPS saat ini masih kerja. 24 jam nonstop,” tukasnya.

Kerja ekstra ini dikarenakan jumlah surat suara terlalu banyak. Lalu, proses perhitungan suara juga berpengaruh.

”Setelah penghitungan surat suara, KPPS harus mengisi aplikasi Sikap. Walaupun akhirnya Sirekap error' dan diganti dengan pengisian laporan dalam bentuk foto di google drive,” papar Sri.

Ternyata bekerja menjadi petugas KPPS bikin kapok. Para rekannya mengeluhkan hal itu.

”Saya kapok. Beberapa KPPS lain juga ada yang kapok. Jika ada Pemilu lagi tidak mau jadi lagi,” imbuhnya.

Baginya menjadi anggota KPPS sangat melelahkan.

Padatnya jadwal mulai dari mempersiapkan TPS, melakukan pemungutan suara, penghitungan surat hingga menyelesaikan administrasi membuat energinya terkuras.

”Lelah mas. Apalagi kerja sampai subuh. Dari pagi hingga pagi lagi. Hampir 24 jam,” katanya.

Gaji Rp 1,3 juta per anggota KPPS dinilai tak cukup. Sebab kerja ekstra hampir 24 jam itu dinilai terlalu melelahkan.

Saking lelahnya, petugas KPPS juga sempat dilarikan ke rumah sakit (RS). Salah satu petugas KPPS di Desa Mojoagung, Pucakwangi dilarikan ke RS pada Rabu (14/2) lalu.

Komisioner KPU Pati Nugraheni Yuliadhistiani tak menyebutkan identitas petugasnya itu. Kondisinya saat ini sudah membaik dan pulang dari RS.

Pihaknya menduga petugas itu kelelahan. Sehingga kesehatannya menurun.

”Kelelahan mungkin kurang tidur saja. Karena mendirikan TPS dan mungkin menjaga TPS saat malam harinya. Karena dia pekerja juga,” tandasnya. (*/him)

 

Editor : Abdul Rokhim
#pati #KPPS #kapok #lembur #cerita #pagi