Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Duh... Upaya Pelestarian Mangrove sebagai 'Sabuk Hijau' di Kawasan Pesisir Pantai Utara Pati Tuai Kendala, Apa Sebabnya?

Achmad Ulil Albab • Rabu, 31 Januari 2024 | 22:00 WIB
PELESTARIAN: Potret hutan mangrove di Desa Kertomulyo, Trangkil Pati yang sudah baik. Namun di beberapa tempat seperti pesisir Tayu masih perlu rehabilitasi.
PELESTARIAN: Potret hutan mangrove di Desa Kertomulyo, Trangkil Pati yang sudah baik. Namun di beberapa tempat seperti pesisir Tayu masih perlu rehabilitasi.

PATI - Pembentukan sabuk hijau di kawasan pesisir berupa hutan mangrove di Kabupaten Pati belum sempurna.

Hal ini karena adanya sejumlah tantangan dalam upaya pelestarian mangrove (bakau).

Hal itu seperti yang diungkapkan Ketua kelompok Mangrove Muria Urip Karnawi.

pihaknya berharap kelestarian wilayah pesisir desanya terus dapat berkelanjutan.

“Kemarin pernah terkena dampak gelombang tinggi dan banjir rob sehingga banyak tanaman mangrove yang rusak,” paparnya.

Karnawi mengungkapkan, selain program penanaman mangrove, ada yang membantu program pada sisi edukasi dan mengubah mindset masyarakat sekitar khususnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Hal senada diungkapkan Penyuluh Pendamping Wilayah Pantai Pati pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Jawa Tengah, Afrina Fajar Widyatmoko.

Menurutnya kondisi ekosistem mangrove yang belum ideal untuk seluruh wilayah pesisir.

Karena adanya kendala di lapangan, salah satunya konflik lahan.

Hal tersebut menjadi kendala dalam pelestarian lingkungan di kawasan pesisir.

Menurutnya rehabilitasi mangrove di sepanjang kawasan pesisir Pantai Utara Jawa di Kabupaten Pati masih membutuhkan waktu lama.

Selain karena faktor areal yang cukup luas, rehabilitasi mangrove juga membutuhkan kehati-hatian untuk menghindari konflik dengan penduduk sekitar pantai.

“Mengingat, tak semua lahan di bibir pantai bisa ditanami manggrove untuk dijadikan tembok alami penghalang abrasi. Karena, lahan-lahan tersebut justru digunakan sebagian masyarakat untuk membuka area tambak baru,” ungkapnya.

“Mangrove seharusnya menjadi perlindungan di sepanjang pantai. Tapi masyarakat ada yang butuh lahan untuk tambak dan sebagainya,” imbuhnya.

Padahal, kata dia, pemerintah saat ini sedang berencana melakukan rehabilitasi mangrove di sepanjang pantai utara di Jawa.

Termasuk di bibir pantai yang berada di Kabupaten Pati.

Pemulihan sabuk hijau itu ditargetkan rampung pada 2045 mendatang.

Namun, pihaknya pesimis target tersebut bakal terealisasi di Kabupaten Pati.

Mengingat, pelestarian lingkungan dengan perekonomian masyarakat setempat seringkali tidak berkesinambungan.

Ia mencontohkan seperti kondisi mangrove yang berada di Desa Jepat Lor Kecamatan Tayu Pati yang mengalami kerusakan akibat dibuka menjadi petambakan. (aua/him)

Editor : Ali Mustofa
#pesisir #pati #bakau #Sabuk Hijau #mangrove