Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Deretan Foto Jadul Jejak-jejak Transportasi Kereta Api di Kabupaten Pati yang Bikin Nostalgia

Achmad Ulil Albab • Minggu, 21 Januari 2024 | 05:32 WIB
Foto Stasiun Juwana pada masa colonial Belanda. Koleksi Leiden University Libraries.
Foto Stasiun Juwana pada masa colonial Belanda. Koleksi Leiden University Libraries.

PATI – Program reaktivasi (pengaktifan kembali) jalur kerata api (KA) yang melintasi Kabupaten Pati masih belum ada kabar hingga kini, alias menguap.

Sebelumnya, rencana reaktivasi jalur kereta api (KA) di lintas Semarang-Rembang berpotensi mengalami percepatan.

Hal ini menyusul adanya permintaan dari sejumlah kepala daerah.

Reaktivasi jalur kereta api di Pati dinantikan masyarakat, sangat penting kehadirannya.

Sampai saat ini kereta api masih menjadi pilihan utama bagi penumpang yang hendak melakukan perjalanan jarak jauh.

Overkapping Stasiun Juwana 1907. Sumber: Buku The Tramways on Java, Gedenkboek, disusun dalam rangka HUT ke-20 Perusahaan Trem Uap Semarang-Joana.
Overkapping Stasiun Juwana 1907. Sumber: Buku The Tramways on Java, Gedenkboek, disusun dalam rangka HUT ke-20 Perusahaan Trem Uap Semarang-Joana.

Kehadirannya mampu menjadi penghubung antarkota. Bisa mengurangi beban jalur pantai utara (Pantura) yang sering mengalami macet parah.

Juga bisa menurunkan angka kecelakaan lalu lintas di Pati, yang merupakan daerah paling rawan di jalur pantura.

Diharapkan adanya kereta api di wilayah Kabupaten Pati dapat memperkaya pilihan moda transportasi bagi masyarakat yang ingin bepergian ke luar kota.

Sebab, selama ini masyarakat di Pati hanya mengandalkan transportasi bus, mobil travel maupun kendaraan pribadi untuk ke luar kota.

Namun hingga tahun ini, belum ada kejelasan terkait program pembahasan reaktivasi jalur kereta api tersebut.

Stasiun Kereta Api Puri, Pati 1905. Koleksi Leiden University Libraries
Stasiun Kereta Api Puri, Pati 1905. Koleksi Leiden University Libraries

”Kami tidak tahu. Saat saya tanyakan perkembangannya juga tidak ada jawaban yang jelas,” ujar Kepala Bappeda Kabupaten Pati Muchtar, Rabu (17/1).

Sebelumnya pada 2019, ada wacana reaktivasi jalur kereta dari Semarang hingga Pati dan Rembang.

Rute sepanjang 100 kilometer itu telah masuk dalam pembahasan yang akan dilalui.

Saat ini, jejak-jejak transportasi kereta api di Kabupaten Pati masih dapat dijumpai.

Namun sudah beralih fungsi. Seperti bekas Stasiun Puri menjadi toko-toko.

Bekas Stasiun Doropayung Juwana juga sudah dikepung permukiman dan difungsikan menjadi garasi. Rel kereta api sudah tertutup jalan-jalan aspal.

Stasiun Kereta Api di Puri, Pati 1905. Koleksi Leiden University Libraries
Stasiun Kereta Api di Puri, Pati 1905. Koleksi Leiden University Libraries

Berdasar pemberitaan Jawa Pos Radar Kudus sebelumnya, pada 2020 dijadwalkan studi trayek dan penentuan rel sudah seharusnya dilakukan.

Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan izin analisis mengenai dampak lingkungan. Direncanakan proyek fisiknya dilakukan 2025.

Diketahui, jalur kereta api di Pati dinonaktifkan atau resmi ditutup pada tahun 1990-an.

Penonaktifan ini dilakukan Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), yang sekarang berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Alasannya, kala itu moda transportasi kereta api kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum. Setelah itu kereta api di Pati pun tinggal nama.

Di masa lalu, wilayah Kabupaten Pati memiliki jalur kereta api.

Trem Uap Samarang - Joana melewati Pati 1910. Koleksi Leiden University Libraries.
Trem Uap Samarang - Joana melewati Pati 1910. Koleksi Leiden University Libraries.

Bahkan kereta api sudah masuk di wilayah ini sejak tahun 1881 seiring dengan kehadiran perusahaan kereta api swasta Belanda yaitu Semarang – Joana Stroomtram Maatschappij (SJS) yang didirikan di Gravenhage, Belanda pada tahun 1881.

Ragil Haryo, sejarawan Kota Pati menjelaskan, wilayah Pati merupakan wilayah yang penting bagi Kolonial Belanda. Letak Pati yang strategis di Pantai Utara Jawa.

Pati menjadi titik tengah dari Kabupaten-kabupaten di wilayah utara seperti Kudus, Jepara, Rembang, Blora, dan Grobogan.

Selain itu Pati juga dijadikan sebagai pusat pemerintahan di antara kabupaten-kabupaten tersebut dengan ditempatkan Asisten Residen di bawah Residen.

Bisa dikatakan Pati menjadi ibukota Karesidenan yang berdampak pada pembangunan Kota Pati.

Menurut Ragil, wilayah Pati sendiri memiliki potensi ekonomi yang besar yaitu penghasil terbesar komoditi gula, kapuk, kayu jati, tras.

Juga bahan kontruksi yang lain yang merupakan tambang emas angkutan organisasi bisnis SJS.

Lintasan Kereta Api Semarang- Juwana melewati Kota Pati 1905. Koleksi Leiden University Libraries
Lintasan Kereta Api Semarang- Juwana melewati Kota Pati 1905. Koleksi Leiden University Libraries

“Hasil-hasil komoditi dari Pati agar menjadi lebih lancar pengangkutannya maka kemudian Perusahaan Kereta Api Belanda yaitu SJS membuka usahanya dengan melayani rute awal Semarang menuju Juana dan kemudian berkembang ke Tayu dan juga Rembang serta Blora," jelas Ragil.

SJS merupakan perusahaan Belanda yang awal berdiri dan bergerak di bidang tranportasi. 

Ragil menjelaskan, transportasi kereta api di wilayah Pati bertahan hingga di masa kemerdekaan Republik Indonesia.

Jalur-jalur kereta di wilayah ini beroperasi dibawah naungan DKA, dan PJKA pada tahun 1970.

Kereta Api Menerobos Banjir di Juana. Sumber: Buku The Tramways on Java, Gedenkboek, disusun dalam rangka HUT ke-20 Perusahaan Trem Uap Semarang-Joana.
Kereta Api Menerobos Banjir di Juana. Sumber: Buku The Tramways on Java, Gedenkboek, disusun dalam rangka HUT ke-20 Perusahaan Trem Uap Semarang-Joana.

“Namun berkembangnya zaman, jalur-jalur ini terus berguguran satu persatu. Jalur rel Juwana-Tayu pada akhirnya ditutup tahun 1990-an, sebelum akhirnya dibongkar seluruhnya pada tahun 1996," paparnya.

Menurut Ragil, hampir semua armada yang digunakan oleh SJS adalah kapal (lokomotif) uap dan memegang peranan penting di masa kolonial.

Penutupan itu sebagai akibat penurunan penumpang yang sangat drastis karena adanya angkutan darat desa dengan memakai colt 120 Mitsubishi buatan Jepang,” lanjutnya.

Melihat kondisi perkembangan saat ini dengan kepadatan jalur pantura kehadiran kereta api di wilayah ini dinilai sangat dibutuhkan.

Lanjut Ragi, mengingat jumlah kendaraan yang saat ini banyak sekali dan tingginya angka kecelakaan di jalur pantura.

"Apalagi jalan raya yang tidak tahan lama menyebabkan kendala tersendiri untuk kelancaran, padahal ini hari tuntutan kerja untuk mobilitas sangat tinggi,” pungkasnya. (aua)

Lintasan Kereta Api Juwana - Lasem melalui Sungai Juwana 1907. Sumber: Buku The Tramways on Java, Gedenkboek, disusun dalam rangka HUT ke-20 Perusahaan Trem Uap Semarang-Joana.
Lintasan Kereta Api Juwana - Lasem melalui Sungai Juwana 1907. Sumber: Buku The Tramways on Java, Gedenkboek, disusun dalam rangka HUT ke-20 Perusahaan Trem Uap Semarang-Joana.
Editor : Ali Mustofa
#kereta api #transportasi #pati #reaktivasi #kai #pantura