“Kami sudah mengelola tapi belum optimal salah satunya karena adanya pandemi kemarin. Awalnya pengunjung sempat ramai sekali,” terang Kepala Desa Kedungpancing Didik Narwadi kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Wisata susur Sungai Silugonggo ini memiliki daya tarik sensasi menyusuri sungai dengan perahu naga wisata. Pengunjung juga tertarik untuk melihat kondisi kana-kiri sungai. Wisata susur sungai di desa ini dipatok tarif 10 ribu per pengunjung. Para pengunjung akan dibawa menyusuri sungai sejauh 3 kilometer selama kurang lebih 20 menitan.
“Dari sini sampai Mintomulyo. Biasanya ada carteran per perahu 250 ribu. Pengunjung akan menyusuri dari dermaga Kedungpancing sampai sekitar jembatan Sampang,” imbuhnya.
Selain terbentur pandemi wisata susur sungai ini juga terkendala Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih minim, mengingat banyak warga desa yang bekerja di luar. “Namun kami akan tetap berusaha untuk mengoptimalkan potensi wisata ini lagi. Kami sudah rancang termasuk nanti di wilayah selatan di Desa Bungasrejo akan ada bendungan karet nah nanti mungkin bisa jadi daya tarik pengunjung juga. Selain susur sungai kami juga menyediakan wahana wisata dayung perahu naga. Pengunjung atau komunitas yang tertarik bisa merasakan belajar dayung di sini tentunya dengan didampingi mentor yang ahli,” harap Didik.
Untuk diketahui rintisan desa wisata ini sudah dimulai pada 2019, selain wisata susur sungai dan dayung pihaknya juga berencana membikin festival Silugonggo sebagai puncak even yang bisa mengangkat segala potensi yang ada di desa. (aua) Editor : Ali Mustofa